Oleh: Wahyu Adhi Nugroho SPd MPd AIFO, Dosen FKIP PJKR Universitas 17 Agustus 1945 Cirebon dan Mahasiswa Program Doktoral Pendidikan Olahraga Universitas Negeri Semarang
***
KOTA Cirebon memiliki potensi talenta sepak bola usia dini yang cukup besar. Antusiasme anak-anak dalam mengolah si kulit bundar, terlihat dari keberadaan Sekolah Sepak Bola (SSB) yang tersebar dimana-mana.
Keberadaan SSB tersebut ada di berbagai wilayah kota dan kabupaten. Namun, bakat alamiah dan minat yang tinggi saja tidak cukup untuk mengantarkan seorang pemain menuju level profesional.
Baca Juga:Cegah Radikalisme dengan Memperkuat Peran Pesantren dalam Meningkatkan Literasi Digital Generasi MudaAda Apa dengan Manchester United? Lawan Como Saja Babak Belur
Dibutuhkan sistem pembinaan yang terstruktur, berkelanjutan, serta didukung manajemen organisasi yang modern dan profesional.
Pembinaan sepak bola usia dini merupakan investasi jangka panjang untuk mencetak atlet berprestasi. Dalam prosesnya, SSB tidak hanya berfungsi sebagai tempat anak-anak belajar bermain sepak bola.
SSB adalah wadah pembentukan karakter, kedisiplinan, kerja sama, dan sportivitas. Bahkan belajar mandiri dalam olahraga prestasi.
Karena itu, pengelolaan SSB di Cirebon perlu terus dikembangkan agar mampu menjawab kebutuhan perkembangan sepak bola modern.
Salah satu tantangan yang dihadapi sejumlah SSB adalah tata kelola organisasi yang belum optimal. Sebagian masih menjalankan kegiatan secara konvensional, tanpa perencanaan pembinaan jangka panjang.
Sistem administrasi yang tertata, maupun program pengembangan pemain berdasarkan kelompok usia, belum optimal.
Kondisi tersebut perlu dibenahi agar proses pembinaan berjalan konsisten dan memiliki target yang jelas.
TIGA PILAR MANAJEMEN SSB MODERN
Baca Juga:782 Anak di 18 Provinsi Terpapar Konten Kekerasan, Ini yang Dilakukan BNPTTim Manajer Kontingen Kota Cirebon pada Porprov Jabar XV/2026 Gelar Monev ke Cabor-cabor
Pertama, penerapan kurikulum pembinaan yang terintegrasi. SSB perlu mengacu pada Filosofi Sepak Bola Indonesia (Filanesia) sebagai salah satu fondasi pengembangan permainan.
Materi latihan harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan pemain, mulai dari penguasaan bola, teknik dasar, pemahaman taktik, hingga kemampuan mengambil keputusan di lapangan.
Orientasi pembinaan tidak semata-mata mengejar kemenangan dalam turnamen, tetapi juga meningkatkan kemampuan individu dan kolektif secara bertahap.
Kedua, penguatan fasilitas dan legalitas organisasi. Manajemen SSB perlu memiliki administrasi yang rapi, struktur kepengurusan yang jelas, serta perencanaan program dan pendanaan yang transparan.
Ketersediaan lapangan yang layak, peralatan latihan yang memadai, dan jadwal latihan yang teratur juga menjadi faktor penting.
