Mewaspadai Importasi Konflik Global: Menjaga Generasi Muda dari Jebakan Propaganda Ekstremis

Muhamad Syauqillah UI
SOROTI: Pengamat Keamanan dan Terorisme pada Kajian Terorisme di Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan UI, Muhamad Syauqillah PhD menyoroti bagaimana kelompok ekstrem secara konsisten mencari celah situasi politik untuk menyusupkan agenda mereka.
0 Komentar

Kedua, persoalan di luar negeri tidak boleh membuat energi publik di Indonesia habis hanya karena mencermati perkembangannya.

Ketiga, perlunya kemampuan komunikasi publik yang tertata baik oleh pemerintah dalam merespons keresahan publik.

“Publik harus diberi pemahaman agar tidak terjebak mengimpor isu dari luar yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan dan gesekan sosial politik di Indonesia,” tegas Syauqi.

Baca Juga:SSB Garuda Jaya Sukses Kawinkan Gelar Festival Sepak Bola Anak Desa Zona PanturaMenata Masa Depan Sepak Bola Cirebon melalui Pembinaan dan Manajemen Profesional di SSB

Sementara itu, dalam konteks literasi di akar rumput, Syauqillah mengingatkan bahwa narasi pencegahan harus dirancang dengan sangat hati-hati dan elegan.

Menurutnya, sentimen keagamaan dan geopolitik di tengah masyarakat sangat rawan dimanipulasi jika tidak dikelola dengan komunikasi yang tepat.

Apalagi, banyak situasi ketidakpuasan publik terhadap manajemen pemerintah yang rentan dipicu oleh kelompok-kelompok tertentu.

“Kita harus menegaskan bahwa konflik di luar jangan sampai berimbas ke Indonesia,” tegas Syauqillah.

Syauqillah mengimbau agar masyarakat tetap menggunakan rasionalitas, mengedepankan persatuan dan perdamaian dalam mengekspresikan pandangan politik di tengah masifnya kelompok ekstremis menyebarkan propaganda.

Syauqillah mengatakan bahwa kekecewaan atas dinamika politik yang terjadi adalah hak pribadi, namun hal tersebut tidak semestinya menjadi dalih untuk memicu kekerasan, disintegrasi, apalagi wacana pengubahan sistem negara.

Jika tidak sepakat, sampaikan melalui jalur demokratis seperti melalui partai politik, DPR, atau lewat tulisan, tanpa kekerasan, penghinaan, maupun provokasi.

Baca Juga:Cegah Radikalisme dengan Memperkuat Peran Pesantren dalam Meningkatkan Literasi Digital Generasi MudaAda Apa dengan Manchester United? Lawan Como Saja Babak Belur

“Tapi ketika Anda mengintrodusir kekerasan, ketidakdamaian, perpecahan, hingga wacana penggantian sistem dengan khilafah, itu yang tidak kita inginkan,” tandas Syauqillah. (*)

0 Komentar