Jual Perhiasan Ortu demi Bisa Kuliah, Pilih Perminyakan karena Melihat Banyak Teman Sukses

Jual Perhiasan Ortu demi Bisa Kuliah, Pilih Perminyakan karena Melihat Banyak Teman Sukses
0 Komentar

Langkah Ibnu Hafidz Arief begitu terasa berat sebelum seperti sekarang. Antara senang dan bingung ketika diterima di Kampus ITB. Bicara biaya, sudah pasti tak punya. Sampai-sampai harus menjual perhiasan milik orang tua. Itu pun masih kurang.
ADE GUSTIANA, Cirebon
KETERBATASAN biaya, masa SMA Ibnu tak pernah membeli buku paket pelajaran. Karena harganya yang mahal. Belum lagi mata pelajaran yang beragam. Sehingga yang dilakukan pergi ke perpustakaan dan pinjam buku.
“Saya membeli buku paket hanya sekali saat SMA. Tapi saya harus belajar, makannya selalu mengunjungi dan nongkrong di Perpustakaan 400 (di Jalan Brigjend Dharsono, Kota Cirebon),” katanya kepada Radar Cirebon, Sabtu (14/5).
Ibnu adalah alumnus SMAN 1 Cirebon tahun 2005. Di saat Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon dijabat almarhum Zaenal Abidin Rusamsi atau yang akrab dipanggil Joni. Ia ingat betul dengan nama itu. Karena termasuk salah satu yang berjasa membantu pendidikan hingga bisa kuliah di Teknik Perminyakan Institut Teknologi Bandung (ITB).
“Alharhum Pak Joni dan istrinya Ibu Sri Indah yang membantu saya hingga masuk ITB. Mereka juga orang tua asuh saya. Beliau berdua memang banyak membantu anak-anak Cirebon yang kesusahan untuk kuliah,” terang lulusan SMPN 2 Jamblang tersebut.
Singkat cerita Ibnu lulus SMA di tahun 2005. Mulanya, tak terpikir untuk melanjutkan kuliah. Ia sadar terlahir dari keluarga yang secara ekonomi terbilang pas-pasan. Namun keinginan untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi itu terasa kuat di hati. Ia mencoba mengikuti seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN).
“Jalur masuk perguruan tinggi negeri saat itu hanya melalui UMPTN. Tak ada jalur PMDK (Penelusuran Minat dan Kemampuan), jalur undangan dan lain-lain,” jelas Ibnu yang telah memiliki rumah sendiri di Norwey tersebut.
Ia lolos seleksi. Jurusan Teknik Perminyakan ITB. Namun dilema selanjutnya masih saja hinggap. Ibnu berpikir dan terus berpikir. Ia memperkirakan biaya masuk kuliah dan hidup sebagai seorang mahasiswa di Bandung begitu besar.
Sedangkan sang ayah saat itu hanya seorang pekerja di toko kayu. Di perusahaan orang lain yang berlokasi di Kecamatan Depok, Kabupaten Cirebon. “Kalau sekarang, bapak jualan tripleks di dekat rumah. Alhamdulillah punya usaha sendiri. Kalau dulu masih kerja buat orang lain,” terang Ibnu.

0 Komentar