Media asal Hongkong itu mengungkapkan, bahwa kebijakan new normal yang sebenarnya dimaksudkan untuk memulihkan kembali ekonomi Indonesia yang merosot, diluncurkan bersamaan dengan upaya yang disengaja untuk “menyesatkan dan mengaburkan skala risiko epidemi”.
“Padahal para ahli telah memperingatkan bahwa pendekatan prematur untuk pemulihan ekonomi dapat berisiko membuat orang Indonesia terpapar wabah lebih lanjut, dan menimbulkan gangguan ekonomi jangka panjang yang lebih dalam,” tulis Asia Times.
Bulan lalu, pakar tanggap darurat terkemuka Indonesia, Dr Corona Rintawan, memutuskan untuk keluar dari Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Indonesia. Dokter itu pun berbagi pandangannya dengan Asia Times mengenai pandemi Covid-19 di tanah air.
Dia menggarisbawahi, bahwa arahan new normal ala Jokowi dapat mengundang lebih banyak infeksi dan kebingungan publik. Alih-alih memetakan cara yang aman untuk meraih kemajuan.
“Pengujian dan pelacakan (virus corona) di Indonesia sangat kurang. Kapasitas kami untuk melakukan tes PCR jauh dari target 20.000 pengujian per hari. Tapi sekarang semuanya tampak santai, ekonomi sedang di-reboot, sekolah dibuka kembali, pertemuan massa agama diizinkan, semuanya atas nama narasi ‘normal baru’ ini,” kata Corona.
“Tampaknya kementerian-kementerian yang ada tengah berusaha menunjukkan dukungan mereka kepada presiden dengan berlomba menerapkan konsep ‘normal baru’ dalam waktu sesingkat mungkin. Terlepas dari apakah masyarakat siap atau jika langkah-langkah itu bahkan diperlukan,” ujarnya kepada Asia Times.
Corona mengingatkan, jika pembukaan kembali aktivitas ekonomi yang bersamaan dengan kegiatan sosial dan keagamaan lainnya, tidak didukung oleh langkah-langkah untuk memperkuat sistem perawatan kesehatan, hal itu dapat mengarah pada ledakan infeksi.
Dia menegaskan, tanpa peraturan dan sanksi yang tegas, kebijakan new normal akan menjadi masalah besar. Apalagi, jika pemerintah membuka kembali perekonomian, sementara mengabaikan saran ahli dan para ilmuwan yang memperingatkan penguasa agar tidak meremehkan skala infeksi, kematian, dan kemungkinan gelombang baru infeksi masal. (der/fin)
Media Asing Sorot Penanganan Covid-19 di Indonesia
