Kata Suprapto, imbas dari peristiwa tersebut, tiga perjalanan kereta api mengalami keterlambatan. Di antaranya KA Argo Cheribon, KA Matarmaja, dan KA Ciremai.
“Kereta yang terlibat kecelakaan mengalami gangguan mesin sehingga kami mengirim lokomotif bantuan untuk melanjutkan perjalanan ke Stasiun Tegal. Selanjutnya lokomotif ini sampai di Tegal, lokomotif yang rusak dibawa ke Cirebon untuk dilakukan perbaikan,” kata Suprapto.
SALAT GAIB
Terpisah, Pengasuh Pondok Buntet Pesantren KH Ahmad Syauqi Chowas membenarkan bahwa satu keluarga itu baru saja menghadiri kegiatan Haul Sesepuh dan warga Pondok Buntet Pesantren. “Sekaligus juga menengok putranya yang bersekolah di madrasah tsnawiyah,” ujarnya.
KH Ahmad Syauqi Chowas mengatakan kabar kecelakaan tersebut diterima ketika kakak santri yang merupakan anak korban mencoba menghubungi telepon seluler milik korban. “Saat telefon, ternyata yang angkat dari pihak kepolisian dan mengabarkan peristiwa tersebut,” tuturnya.
Syauqi pun mengimbau kepada seluruh warga dan santri Buntet Pesantren melaksanakan Salat Gaib untuk satu keluarga tersebut. “Kami meminta kepada masyarakat, terutama alumni Pondok Buntet Pesantren untuk menyelenggarakan Salat Gaib dan mendoakan seluruh korban,” ujarnya.
Sementara itu, Radar Tegal (Radar Cirebon Group) melaporkan bahwa ratusan pelayat mendatangi rumah Ahmad Zaeni, Minggu (7/8). Pada kesempatan itu, Sekertaris Camat Losari, Kabupaten Brebes, Takwid, mengatakan korban termasuk tokoh muda yang aktif di bidang keagamaan.
“Korban juga merupakan tokoh NU di desanya maupun di Kecamatan Losari. Selain aktif di bidang keagamaan, korban juga kepala MA NU Losari. Beliau (Ahmad Zaeni, red) dikenal memiliki kepribadian yang baik. Orangnya sangat baik pada semua orang, jadi kami merasa kehilangan,” ujar Takwid. (den/cep/tgl)