RADARCIREBON.ID – Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kota Cirebon menepati janjinya dengan menggelar pameran lukisan tunggal karya Agung (27), seorang guru tunarungu yang mengajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Budi Utama, Kota Cirebon.
Pameran tersebut digelar di Grage Mall Cirebon dan menampilkan sekitar 20 karya lukisan Agung. Kegiatan ini berlangsung mulai Senin (9/2/2026) hingga Sabtu (28/2/2026).
Ketua PGRI Kota Cirebon, Eka Novianto, mengatakan pameran tersebut merupakan bentuk apresiasi atas talenta dan dedikasi Agung sebagai pendidik sekaligus seniman.
Baca Juga:Bukan Sekadar Pelapor Peristiwa, Walikota: Pers Fondasi Nalar Publik yang SehatTinjau Brigif TP 31 dan Yonif TP 875 di Dompu, Menhan Sjafrie Tekankan TNI Harus Bermanfaat bagi Rakyat
“Saya pernah berjanji kepada Pak Agung untuk menyelenggarakan pameran tunggal sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karyanya. Alhamdulillah, hari ini janji itu bisa kami wujudkan,” ujar Eka kepada Radar Cirebon.
Menurut Eka, Agung merupakan sosok guru istimewa yang memiliki bakat luar biasa di bidang seni lukis. PGRI Kota Cirebon merasa bangga sekaligus memiliki kewajiban moral untuk mengangkat potensi yang dimiliki anggotanya.
Agung diketahui merupakan alumni SLB Budi Utama. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi hingga akhirnya kembali mengabdi sebagai guru di sekolah tersebut. Sejak masih bersekolah, Agung telah menorehkan berbagai prestasi, baik di tingkat provinsi maupun nasional.
“Selama ini mungkin banyak yang belum mengetahui potensi luar biasa beliau. Melalui pameran ini, kami ingin memperkenalkan karya-karya Pak Agung kepada masyarakat luas,” tambah Eka.
Sebagai penyandang tunarungu, Agung memiliki keterbatasan dalam komunikasi verbal. Melalui seni lukis, ia menuangkan perasaan dan pikirannya ke dalam karya visual yang sarat makna.
“Dengan melukis, Pak Agung dapat mengekspresikan apa yang ia rasakan. Lukisan menjadi bahasa perasaannya,” ungkap Eka.
Meski memiliki keterbatasan, Agung terus berkarya dan berprestasi. Ia berkomunikasi melalui gestur, ekspresi wajah, serta bahasa isyarat, yang kemudian dituangkan dalam bentuk lukisan.
Baca Juga:Kasus Ketua PN Depok Jadi Ujian Serius Integritas Hakim dan Pengawasan PeradilanLomba Hafidz Cilik Jadi Program Unggulan TK Baitul Makmur
Sementara itu, Betty, guru sekaligus penerjemah bahasa isyarat Agung, mengatakan bakat melukis Agung mulai terlihat sejak usia delapan tahun.
“Waktu itu Agung masih berusia delapan tahun. Meski belum bisa banyak hal, coretan gambarnya sudah sangat bagus. Dari situ saya mulai mengasah kemampuannya,” ujar Betty.
