Soal Isu BBM, Komunikasi Pemerintah Diharapkan Lebih Empatik

isu bbm
Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR) Neni Nur Hayati memaparkan sentimen publik terhadap isu BBM. Foto: DIR - radarcirebon.id
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Isu kenaikan dan kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) mendominasi pemberitaan di media mainstream hingga perbincangan di media sosial.

Meningkatnya kekhawatiran masyarakat atas kemungkinan adanya kelangkaan hingga harga yang naik, diharapkan direspons pemerintah dengan komunikasi yang empatik.

Hal ini dapat mengurangi gejolak publik terkait dengan BBM yang merupakan komoditas vital bagi masyarakat.

Baca Juga:Kisah Cinta Sutan Syahrir dan Putri Pura Mangkunegaran di Kaki Gunung CiremaiWFH No, Naik Sepeda Oke

Terkait dinamika publik atas isu BBM tersebut, terekam dalam pemantauan Deep Intelligence Research (DIR), lembaga riset dan penyedia layanan analisis big data.

Percakapan publik mengenai isu Bahan Bakar Minyak (BBM) terekam pada pemantauan periode 14 Maret hingga 01 April 2026.

Isu BBM di dalam negeri turut dipengaruhi dengan adanya penutupan Selat Hormuz akibat konflik antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel.

Timeline itu diambil sebagai rentang sebelum arus mudik mencapai puncak, hingga muncul isu akan adanya kenaikan harga BBM di Indonesia per 1 April 2026 yang ternyata tidak terbukti.

Data menunjukkan adanya peningkatan volume percakapan yang signifikan menjelang akhir Maret, yang dipicu oleh sentimen global dan isu domestic yang berkembang yakni stok BBM dan kabar akan adanya kenaikan harga.

Direktur Komunikasi Deep Intelligence Research (DIR) Neni Nur Hayati mengatakan, lembaganya melakukan analisis terhadap 11.696 media siber (online) nasional dan internasional, 242 media cetak di Indonesia, dan 32 media elektronik terdiri dari televisi dan radio, serta seluruh platform media sosial terdiri dari X, Facebook, Instagram, Tiktok, Youtube dan Threads dengan objek pemantauan isu seputar polemik BBM, krisis energi, dan geopolitik.

“Hasil monitoring menunjukkan bahwa pemberitaan tentang isu BBM sepanjang waktu pemantauan menunjukkan berita di media mainstraim didominasi sentiment positif sebanyak 71%, sentiment netral 4% dan 26% sentimen negatif.”

Baca Juga:Arus Balik Lebaran 2026 Hari Ini, Tol Cipali Masih One WayArus Balik Lebaran Hari Ini, 87 Ribu Kendaraan Lintasi Tol Cipali

“Adapun di media sosial emosi “Anticipation” (Kewaspadaan) menjadi narasi utama di hampir seluruh platform media sosial. Publik terpantau sangat reaktif terhadap isu penutupan Selat Hormuz dan konflik di Timur Tengah yang dikhawatirkan berdampak pada harga energi domestik. Terdapat total 194.419 percakapan, dengan 910.371.595 audience dan 302.054.247 engagement,” kata Neni.

“Data kami menangkap adanya pola ‘wait and see’ yang sangat kuat dari masyarakat. Narasi media mainstraim saat ini didominasi sentimen positif terkait jaminan stok dari pemerintah dan Pertamina. Berbeda dengan di media sosial seperti X (Twitter) dan Threads, terdapat keresahan (emosi Fear dan Anger) yang berkaitan dengan potensi krisis energi dan dampaknya terhadap biaya logistik. Dalam analisis sentimen cenderung netral dan negative, ” tutur Neni.

0 Komentar