Puncaknya, pada malam tasyakuran. Warga disuguhi panggung seni yang melibatkan anak-anak, ibu-ibu hingga remaja.
Anak-anak tampil membawakan Tari Saman dan Tari Rasa Sayange. Setelah itu, giliran ibu-ibu RT 03 menunjukkan kekompakan melalui paduan suara.
Panggung kemudian diserahkan kepada para remaja melalui pembacaan puisi.Jadi, kalau siang hari warga dibuat tertawa oleh aksi lomba, malam harinya suasana berubah menjadi panggung kreativitas warga.
Baca Juga:UGJ Cirebon Dorong Digitalisasi Pertanian lewat Smart Farming Berbasis Solar Cell di Desa MatangajiCHC V Tahun 2026 Dimulai, Ajang Pembinaan Atlet Handball Menuju Prestasi Nasional
Menurut Agus Firdaus, inti perayaan tahun ini bukan sekadar membuat Agustusan semeriah mungkin. Ada misi yang lebih besar: memberi kepercayaan kepada generasi muda.
Para muda-mudi RT 03 didorong untuk belajar mengurus kegiatan, membangun komunikasi, membagi tugas, bekerja sama dan bertanggung jawab terhadap acara yang mereka selenggarakan sendiri.
Dengan kata lain, Agustusan kali ini menjadi “sekolah organisasi” bagi anak-anak muda RT 03.
Ketua Panitia 17 Agustus Muhammad Ilyas Syafe’i bersama rekan-rekannya pun mendapat kesempatan membuktikan bahwa generasi muda tidak hanya jago nongkrong, tetapi juga bisa menjadi penggerak kegiatan di lingkungannya.
Kemerdekaan tidak hanya diperingati dengan bendera yang berkibar, tetapi juga dengan tawa, kreativitas, gotong royong dan keberanian memberikan ruang kepada generasi muda.
“Kalau generasi muda diberi kepercayaan, jangan cuma diberi kursi di pinggir panggung. Berikan mereka panggungnya. Biarkan mereka membuat kampungnya hidup,” ucap Agus dengan nada semangat. (*)
