KUNINGAN – Pemerintah Kabupaten Kuningan fokus terhadap ketahanan pangan dengan mendorong pekarangan rumah menjadi ruang produksi pangan keluarga. Hal itu dilakukan melalui program Tatapakan Jati (Tanam Tanah Pekarangan, Jaga dan Tekan Inflasi).
Program yang dikembangkan pada 2026 tersebut menjangkau 92 kelompok di 92 lokasi dengan enam jenis komoditas. Tatapakan Jati merupakan pengembangan dari Taman Masagi (Tanam di Halaman, Mitra Sinergi Jaga Inflasi) yang telah berjalan selama dua tahun.
Penguatan program ditandai dengan penyerahan benih dan sarana produksi pertanian kepada Kelompok Wanita Tani (KWT) penerima manfaat Tahun Anggaran 2026 di Aula Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan.
Baca Juga:Cegah Banjir, Polres Kuningan Bersihkan Pasar Baru dan Sungai CitambaPabrik Sepatu Sindangbarang, Investor Mulai Lunasi Pembayaran Lahan
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Kuningan Dr Wahyu Hidayah MSi mengatakan, Tatapakan Jati merupakan pengembangan dari program Taman Masagi yang telah berjalan selama dua tahun.
Jika Taman Masagi mendorong pemanfaatan halaman rumah, Tatapakan Jati memperluas sasaran hingga seluruh tanah pekarangan yang masih dapat digunakan untuk budidaya pangan.
Menurut Wahyu, ketahanan pangan tidak selalu membutuhkan lahan luas. Ruang yang tersedia di sekitar rumah dapat dikelola secara produktif untuk memenuhi sebagian kebutuhan pangan keluarga sekaligus mendukung pengendalian inflasi.
Pada 2024 dan 2025, Taman Masagi dikembangkan dengan mendorong masyarakat menanam berbagai kebutuhan pangan di halaman rumah. Memasuki 2026, pendekatan tersebut diperluas melalui Tatapakan Jati dengan komoditas yang disesuaikan dengan kondisi wilayah, mulai tanaman pangan, hortikultura hingga tanaman obat.
Sebanyak 92 kelompok penerima manfaat sebelumnya melalui proses identifikasi dan verifikasi. Mereka kemudian mendapatkan sarana produksi, pendampingan penanaman dan pemeliharaan, serta monitoring dan evaluasi dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian.
Wahyu menegaskan, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bantuan yang disalurkan. Indikator utamanya ialah apakah pekarangan benar-benar produktif, tanaman menghasilkan, hasilnya dimanfaatkan keluarga, dan terjadi perubahan perilaku dalam pemenuhan kebutuhan pangan.
Karena itu, penyuluh pertanian tetap melakukan pendampingan teknis di lapangan. Setiap lokasi juga dipantau untuk melihat perkembangan budidaya sekaligus memastikan bantuan yang diberikan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial.
Baca Juga:Suspek Influenza A Melonjak di Kuningan, Pasien Anak MendominasiRumah Lansia di Pasayangan Kuningan Terbakar, Diduga Dipicu Tungku yang Belum Padam
“Bantuan adalah titik awal, bukan titik akhir. Benih harus ditanam, tanaman harus dirawat, hasil harus dimanfaatkan, dan keberhasilan harus dikembangkan,” tegas Wahyu.
