Ini Cara Menangkal Propaganda IRET di Ruang Virtual Gim Online

Angel Damayanti
BERI TANGGAPAN: Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional FISIPOL UKI sekaligus Rektor UKI periode 2026–2030, Prof Angel Damayanti SIP MSi MSc PhD mengatakan bahwa gim daring bukanlah penyebab utama radikalisasi.
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Perkembangan teknologi digital menghadirkan tantangan baru dalam upaya penanggulangan intoleransi, radikalisme, dan terorisme (IRET).

Ruang permainan daring atau online game yang selama ini menjadi sarana hiburan, kini berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi ekstremisme berbasis kekerasan.

Fenomena ini menjadi perhatian serius kalangan akademisi dan pengamat keamanan internasional.

Baca Juga:Soal Mitigasi Radikalisme Digital, Putri Langka Sarankan Pendekatan Dialogis untuk Lindungi AnakWSC Juara Umum Fun Swim Kesaktian Pancasila Cup 2026

Mengingat, kelompok radikal terus menyesuaikan strategi propaganda dan rekrutmen mereka melalui berbagai platform digital.

Guru Besar Ilmu Keamanan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Kristen Indonesia (FISIPOL UKI) sekaligus Rektor UKI periode 2026–2030, Prof Angel Damayanti SIP MSi MSc PhD menegaskan, gim daring bukanlah penyebab utama radikalisasi.

Namun, risiko dapat muncul ketika fitur-fitur di dalamnya disalahgunakan oleh kelompok ekstremis untuk menyebarkan ideologi kekerasan.

Game online, kata dia, bukanlah penyebab langsung terjadinya radikalisme, karena kebanyakan pemain tidak memiliki hubungan dengan ekstremisme.

Risiko muncul ketika media gim dimanfaatkan untuk menyebarkan kebencian, menormalisasi kekerasan, membangun loyalitas eksklusif, dan merekrut individu yang rentan.

“Biasanya menimpa remaja dan anak muda,” ujar Prof Angel, di Jakarta, Sabtu (17/10/2026).

Menurut peneliti senior Center for Security and Foreign Affairs (CESFAS) UKI tersebut, kerentanan dalam gim daring dipengaruhi oleh interaksi sosial yang berlangsung berulang kali.

Baca Juga:Pancasila Sakti di Tengah Gempuran Ideologi Ekstrem dan Politik Pecah Belah Bangsa, Ini Kata Amir MahmudPengurus Orado Kabupaten Cirebon Periode 2026–2030 Resmi Dilantik, Siap Cetak Atlet Berprestasi

Sehingga, membentuk ikatan emosional, penggunaan identitas anonim, serta keleluasaan pemain dalam menciptakan skenario dan simbol permainan.

Pemanfaatan gim daring oleh kelompok radikal sebenarnya telah terdeteksi sejak dekade 1980-an dan terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital.

Ia mengungkapkan, pada 2014, ISIS mulai memanfaatkan permainan daring, seperti Call of Duty, untuk menarik perhatian masyarakat luas sekaligus menyebarkan propaganda.

Risiko penyalahgunaan gim semakin meningkat sejak 2020, ketika fitur kustomisasi memungkinkan pengguna mengubah dan menciptakan berbagai konten di dalam permainan.

Pada Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi adanya pola rekrutmen yang menyasar anak muda melalui platform gim.

Mereka kemudian diarahkan menuju grup pesan tertutup, seperti WhatsApp atau Telegram, untuk membangun komunikasi yang lebih intensif.

“Oktober 2025, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengonfirmasi adanya pola rekrutmen di mana anak-anak muda diarahkan dari platform gim menuju grup pesan tertutup seperti WhatsApp atau Telegram untuk komunikasi yang lebih intensif,” terangnya.

0 Komentar