RADARCIREBON.ID – Hamparan rumput di Stadion Olahraga Watubelah, Sumber sedang tidak baik-baik saja. Warnanya berubah menjadi kuning kecokelatan. Kering. Gersang.
Pemandangannya mirip sawah menjelang panen. Musim kemarau memang bisa membuat rumput kehilangan kesegarannya.
Namun, kondisi itu memunculkan pertanyaan lain. Sejauh mana pemeliharaan Stadion Watubelah dilakukan?
Terlebih, Stadion Olahraga memiliki pengelola. Bahkan, fasilitasnya kerap dimanfaatkan masyarakat.
Baca Juga:Pilih Ketua OSIS Cuma 10 Detik, MAN 1 Cirebon Jadi Pilot Project Nasional E-VotingPria Berbusana Perempuan Live TikTok di Depan Gedung BAT Cirebon, Diamankan Polisi dan Satpol PP
Kondisi itupun menuai kritik tajam dari Aktivis Cirebon, Abdulrohim. Ia mempertanyakan seperti apa pola pemeliharaannya, hingga kondisi rumput mengering.
Padahal, kawasan Stadion Watubelah termasuk area parkir dan lapangan berada dalam pengelolaan KONI. “Ini sih, pembiaran. Tidak ada yang mengurus,” kata pria yang akrab disapa Ohim, kemarin.
Di sisi lain, ungkap Ohim, pengunjung yang datang ke kawasan tersebut harus membayar karcis parkir. Bahkan, untuk masuk ke area stadion, pengunjung kembali dikenai tarif.
“Ada dua kali pembayaran. Warga sudah ‘dipalak’ dengan dalih karcis parkir. Masuk ke stadion juga ditarif lagi,” ungkapnya.
Mestinya, kata Ohim, diikuti dengan pengelolaan fasilitas yang jelas dan terukur. Ia mempertanyakan apakah penerimaan dari aktivitas kawasan stadion turut dimanfaatkan untuk membiayai perawatan lapangan.
“Buktinya mana? Tidak terlihat, kenapa rumput lapangan yang menghabiskan banyak anggaran itu tidak di-maintenance,” ungkapnya.
Menurutnya, berdasarkan informasi, rumput stadion telah dirawat, termasuk melalui penyiraman dan pemupukan. Namun, kondisi lapangan yang terlihat bikin ragu terhadap efektivitas pemeliharaan.
Baca Juga:Perpanjang Status Siaga Darurat Kekeringan, Belum Turun Hujan, 5.914 Warga Argasunya Krisis Air BersihPimpinan Pelindo Regional 2 Berganti
“Katanya diurus. Disiram, dipupuk. Mana buktinya? Kondisinya rumput di lapangan memprihatinkan. Kering kecoklatan. Jangan jadikan kemarau sebagai alasan,” tegasnya.
Harusnya, perawatan lapangan tetap berjalan meski masih musim kemarau. Penyiraman dan pemupukan yang tepat, disertai pemeliharaan rutin, diperlukan agar kondisi rumput tidak semakin memburuk.
Ia juga menyoroti peran Dispora. Ohim mempertanyakan anggaran pemeliharaan stadion yang semestinya mendukung perawatan fasilitas tersebut.
Bagi Ohim, persoalan ini bukan sekadar rumput yang menguning. “Ada tanggung jawab pengelolaan yang perlu dijelaskan kepada publik, terutama menyangkut perawatan fasilitas olahraga yang menggunakan anggaran,” tuturnya.
