MBG dan Kecemasan yang Menyertai Orang Tua, Asuransi Pribadi Jadi Andalan di Tengah Ketidakpastian

Keracunan MBG
JAGA ANAK DI RS: Yanuar saat ditemui di lingkungan RS Cahaya Bunda, Rabu siang (21/10/2026). Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

Persoalan biaya itu, menurut Yanuar, turut menjadi perhatian orang tua lain. “Sebagian memilih membawa anak ke rumah sakit dengan biaya sendiri, sedangkan lainnya masih memantau kondisi anak di rumah,” jelasnya.

Belum diketahui berapa banyak orang tua yang mengambil keputusan tersebut. Bagi Yanuar, kejadian yang menimpa Khalisa juga memperkuat kekhawatirannya terhadap program MBG. Ia mengaku sejak awal telah melarang dua anaknya yang bersekolah di jenjang TK dan SMP mengonsumsi makanan dari program tersebut. Namun, larangan itu sempat tidak berjalan sepenuhnya sehingga Khalisa masih mengonsumsi MBG.

Setelah kejadian ini, ia berencana memperketat larangan tersebut. Yanuar juga akan berkomunikasi dengan pihak sekolah agar anak-anaknya tidak lagi diberikan makanan MBG.

Baca Juga:MBG Cirebon Bikin Geger, Lebih dari 100 Siswa dan Guru Dilarikan ke Empat RSPembiayaan Syariah Kian Terhubung dengan Sektor Riil

Ia mengaku sebelumnya sudah memiliki kekhawatiran terhadap pelaksanaan program itu. Kini, setelah anaknya mengalami gangguan kesehatan dan harus mendapat perawatan, ia semakin memilih agar anak membawa bekal sendiri dari rumah.

“Pemerintah perlu mengevaluasi kesiapan pelaksanaan MBG dari hulu hingga hilir. Mulai dari penyediaan bahan makanan, pengolahan, distribusi, sampai pengawasan kualitas makanan yang diterima siswa,” tegasnya.

Ia menilai program pemenuhan gizi bagi anak perlu dijalankan dengan persiapan yang matang. Jangan sampai program yang bertujuan memenuhi kebutuhan gizi justru memunculkan kekhawatiran bagi orang tua. (*)

0 Komentar