RADARCIREBON.ID- Anak sakit, orang tua panik. Namun, tidak semua berani langsung membawa anaknya ke rumah sakit. Persoalan biaya menjadi salah satu kekhawatiran setelah ratusan siswa di Kota Cirebon diduga mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kondisi itu terungkap dari cerita Yanuar Barlianto (46), orang tua Khalisa Aiza (5), siswi TK Teratai, Kelurahan Kalijaga, Kota Cirebon. Menurut Yanuar, berdasarkan informasi di grup WhatsApp, sebagian orang tua memilih memantau kondisi anak di rumah meski mengetahui anaknya sakit. Mereka khawatir biaya pengobatan tidak ditanggung pihak yang bertanggung jawab atas program MBG.
“Sebagian orang tua membawa anaknya ke rumah sakit dengan biaya sendiri. Namun, ada juga yang belum membawa anaknya untuk diperiksa,” kata Yanuar saat ditemui Radar Cirebon di lingkungan RS Cahaya Bunda, Rabu (21/10/2026).
Baca Juga:MBG Cirebon Bikin Geger, Lebih dari 100 Siswa dan Guru Dilarikan ke Empat RSPembiayaan Syariah Kian Terhubung dengan Sektor Riil
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Yanuar sendiri belum mendapat kepastian mengenai penanggungan biaya perawatan anaknya. Padahal, ia mengaku mendengar pernyataan bahwa biaya korban dugaan keracunan MBG akan ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN) atau SPPG bersangkutan.
Hingga Rabu kemarin, menurut dia, belum ada pihak BGN atau SPPG yang menghubungi keluarganya untuk menjelaskan mekanisme penanggungan biaya tersebut.
Akhirnya, Yanuar menggunakan asuransi pribadi untuk membiayai perawatan Khalisa. “Pada malam kejadian memang ada pernyataan biaya akan ditanggung. Namun, sampai sekarang belum ada yang menghubungi kami,” ujarnya.
Khalisa dibawa ke RS Cahaya Bunda pada Selasa (20/10/2026) sekitar pukul 18.30 WIB. Sebelumnya, ia mengalami muntah dua kali, suhu tubuh hampir 38 derajat celsius, serta sakit perut. Keluhan terakhir disebut paling berat dirasakannya.
Setibanya di rumah sakit, Khalisa langsung dibawa ke instalasi gawat darurat (IGD) untuk mendapatkan penanganan dokter. Pemeriksaan juga dilakukan, termasuk pengambilan sampel darah.
Menurut Yanuar, berdasarkan informasi yang diterimanya, hasil pemeriksaan menunjukkan adanya kandungan yang berisiko. Namun, keterangan tersebut masih perlu dikonfirmasi kepada pihak rumah sakit melalui hasil pemeriksaan medis resmi.
Dokter kemudian menyarankan Khalisa menjalani perawatan. Di tengah kekhawatiran terhadap kondisi anak, Yanuar juga harus memikirkan pembiayaannya. Ia akhirnya mengandalkan asuransi pribadi karena belum memperoleh kepastian mengenai penanggungan biaya dari BGN maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
