RADARCIREBON.ID – Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Jawa Barat Herman Suryatman bersama Sekda Kabupaten Majalengka Aeron Randi meninjau aktivitas perajin genteng di Kecamatan Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Senin sore (26/10/2026). Kunjungan tersebut untuk memastikan kesiapan industri genteng lokal dalam mendukung program gentengisasi yang direncanakan melibatkan pemerintah pusat dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
Program tersebut diharapkan menjadi momentum kebangkitan industri genteng tradisional Jatiwangi sekaligus mendorong pertumbuhan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Herman mengatakan, persiapan program terus dilakukan, terutama terkait ketersediaan pasokan dan kualitas produk. Program tersebut mendapat pengawalan Gubernur Jawa Barat dan kementerian terkait serta direncanakan diluncurkan Presiden setelah seluruh persiapan dinyatakan memadai.
Baca Juga:DPRD Minta Stop Sementara Proyek Pengembangan Trusmiland Klayan 5Operasi Patuh Lodaya, Kerahkan 120 Personel
“Sore ini kami ada di Jatiwangi, Majalengka, untuk mengecek kesiapan program gentengisasi. Insyaallah program ini dikawal langsung oleh Pak Gubernur dan Pak Menteri. Mudah-mudahan tidak ada kendala sehingga dapat diluncurkan oleh Bapak Presiden,” ujar Herman.
Dari sisi pasokan, Herman menyebut terdapat rencana dukungan hingga 600.000 truk. Dengan asumsi setiap truk mengangkut 4.000 keping genteng, jumlah tersebut setara dengan sekitar 2,4 miliar keping.
Namun, realisasi pasokan tetap bergantung pada kebutuhan program, kapasitas produksi, distribusi, dan tahapan pelaksanaan yang ditetapkan pemerintah.
Selain kesiapan produksi, Herman menyoroti peningkatan kualitas genteng Jatiwangi melalui penerapan standardisasi. Pemenuhan Standar Nasional Indonesia (SNI) dinilai penting untuk meningkatkan kepercayaan konsumen sekaligus memperluas jangkauan pasar.
Dengan kualitas yang memenuhi standar, genteng Jatiwangi diharapkan mampu bersaing di pasar Jawa Barat maupun daerah lain di Indonesia.
Program gentengisasi mulai dirasakan manfaatnya oleh sejumlah perajin. Peningkatan permintaan dinilai membantu memperbaiki kondisi usaha yang sebelumnya menghadapi tantangan pemasaran dan keuntungan produksi.
Perwakilan perajin menyebut dampak program tidak hanya dirasakan pemilik pabrik, tetapi juga tenaga kerja dan pelaku usaha pendukung, termasuk pemasok kayu bakar.
Baca Juga:Kekerasan Perempuan dan Anak di Kota Cirebon Capai 71 KasusKPU Usulkan Anggaran Pilkada Rp62,3 M: Meningkat Rp25 Miliar dari Pilkada 2024
“Dari pihak perajin, tenaga kerja, hingga pengusaha lainnya, seperti pemasok kayu bakar, ikut merasakan dampaknya. Harga juga mulai kompetitif sehingga keuntungan pabrik bisa diperhitungkan dan hasilnya mulai terasa,” ujarnya.
