Dijelaskannya, kapasitas pengembangan kawasan masih terbuka untuk diperluas. Potensinya bahkan dapat mencapai ratusan hektare, tergantung pada hasil kajian kelayakan, ketersediaan lahan, serta daya tarik investasi dari sisi finansial.
Bahkan, sejumlah investor domestik telah menunjukkan ketertarikan. Peluang itu juga pernah ditawarkan dalam beberapa forum BKPM.
“Kedepan, investor asing pun berpeluang ikut berpartisipasi. Namun, proyek ini masih berada dalam tahap studi kelayakan atau feasibility study (FS),” tukasnya.
Baca Juga:Amankan Aset, PG Rajawali II Minta Bantuan KejaksaanRevitalisasi Pasar Kanoman, Perumda Pasar: Lahan 1.900 Meter Bersertifikat dan Aset Pemkot
Sementara itu, Kepala DPMPTSP Kabupaten Cirebon, Dr Hilmy Rivai MPd mengatakan, pengembangan industri garam di Ambulu tidak hanya berkaitan dengan peningkatan produksi, tetapi juga upaya mempertahankan kualitas garam lokal di tengah pesatnya perkembangan kawasan industri.
Menurutnya, wilayah utara Kabupaten Cirebon selama ini menjadi penyumbang produksi garam yang lebih besar, yakni sekitar 74 persen. Sementara kontribusi wilayah timur baru sekitar 3 persen.
“Meski produksinya relatif kecil, wilayah timur dinilai memiliki keunggulan dari sisi kualitas garam,” ungkapnya.
Kondisi ini menjadi alasan kawasan tersebut tetap didorong untuk berkembang sebagai salah satu sentra industri garam.
Hilmy memaparkan, produksi garam Kabupaten Cirebon tercatat mencapai sekitar 116.489 ton pada 2023. Angka tersebut turun menjadi 91.459 ton pada 2024.
Sementara itu, data produksi tahun 2025 tercatat sebesar 12.282 ton. “Perubahan produksi tidak serta-merta menunjukkan hilangnya potensi garam. Tapi, perkembangan industri di wilayah timur turut memengaruhi pemanfaatan lahan,” katanya.
Karena itu, investasi industri garam diharapkan dapat menghidupkan kembali potensi yang ada sekaligus menjaga keberlanjutan usaha petani.
Baca Juga:Gentengisasi Dongkrak UMKM, Sekda Jabar Tinjau Perajin Genteng JatiwangiDPRD Minta Stop Sementara Proyek Pengembangan Trusmiland Klayan 5
Dari sisi pendukung, lanjut Hilmy, Kawasan Ambulu juga dinilai memiliki akses infrastruktur yang dapat menunjang kegiatan industri, termasuk jalan tol dan pelabuhan.
“Kondisi sosial budaya masyarakat yang masih memiliki keterkaitan dengan usaha garam turut menjadi pertimbangan dalam pengembangan kawasan,” tandasnya.
Ia menambahkan, hasil kajian pengembangan industri garam telah dipresentasikan di tingkat provinsi.
Selanjutnya, kajian akan disempurnakan dengan mempertimbangkan masukan dari OPD, terutama terkait lingkungan hidup dan tata ruang.
“Perhitungan nilai sewa lahan, harga jual hasil produksi, kebutuhan investasi, hingga proyeksi BEP juga masih harus diperinci,” katanya.
