RADARCIREBON.ID – Kabupaten Cirebon berpeluang menjadi salah satu pusat pengembangan industri garam di Jawa Barat. Kawasan Ambulu menjadi salah satu lokasi yang disiapkan menarik investasi.
Peluang itu dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) penyusunan Peta Peluang Investasi (PPI) pengembangan industri garam di Jawa Barat di Aula Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Cirebon, Rabu (28/10).
Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Muda Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal), Dwianta Hadi Pramana mengatakan, pengembangan industri garam menjadi penting lantaran kebutuhan nasional masih belum sepenuhnya terpenuhi dari produksi dalam negeri.
Baca Juga:Amankan Aset, PG Rajawali II Minta Bantuan KejaksaanRevitalisasi Pasar Kanoman, Perumda Pasar: Lahan 1.900 Meter Bersertifikat dan Aset Pemkot
Cirebon, kata Dwianta, khususnya di Kawasan Ambulu, dinilai memiliki potensi untuk mendukung pemenuhan kebutuhan tersebut.
Penilaian itu didasarkan pada hasil peninjauan lapangan serta kajian terhadap potensi lokasi, ketersediaan lahan, dan peluang pasar.
“Dari beberapa lokasi yang dinilai, Ambulu memperoleh skoring tertinggi. Potensinya ada dan permintaannya juga tersedia. Sekarang kami mengkaji peluang yang paling menarik untuk dikembangkan dan ditawarkan kepada investor,” terangnya.
Menurutnya, sejumlah wilayah lain, termasuk Indramayu dan Bungko Kecamatan Kapetakan, sempat masuk dalam pertimbangan. Namun, berdasarkan penilaian terhadap berbagai aspek, Ambulu dinilai memiliki prospek yang menjanjikan.
“Salah satu aspek yang tengah dimatangkan adalah kebutuhan lahan untuk membangun ekosistem industri garam yang berkelanjutan,” ucapnya.
Saat ini, ungkap Dwianta, lahan milik desa seluas 11 hektare disiapkan untuk kawasan bangunan industri dengan skema sewa.
Sementara itu, sekitar 90 hektare lahan di sekitarnya berpotensi mendukung produksi garam tradisional.
Baca Juga:Gentengisasi Dongkrak UMKM, Sekda Jabar Tinjau Perajin Genteng JatiwangiDPRD Minta Stop Sementara Proyek Pengembangan Trusmiland Klayan 5
“Dengan skema tersebut, total kebutuhan lahan yang disiapkan mencapai sekitar 100 hektare,” tuturnya.
Luasan ini dinilai ideal untuk mendukung operasional industri dan mencapai target titik impas atau break even point (BEP) dalam waktu sekitar tiga tahun, meski perhitungannya masih perlu dimatangkan.
“Dalam skema yang dirancang, lahan untuk bangunan industri akan dikelola melalui mekanisme sewa. Adapun garam yang dihasilkan petani dari lahan tradisional berpotensi dipasok ke industri melalui kontrak kerja sama atau pola kemitraan plasma,” imbuhnya.
