Kebakaran Ciremai Ungkap Pentingnya Kemitraan, Buku "Konstitusi Hijau" Tawarkan Model Baru Konservasi

Dr. H. Dadan Taufik F., S.Hut., S.H., M.H., M.Kn., menunjukkan buku \"Konstitusi Hijau\" .
Dr. H. Dadan Taufik F., S.Hut., S.H., M.H., M.Kn., menunjukkan buku \"Konstitusi Hijau\" .
0 Komentar

Kemitraan Jangan Berhenti pada LaranganSalah satu persoalan mendasar dalam pengelolaan kawasan konservasi adalah bagaimana mempertemukan kepentingan perlindungan alam dengan kehidupan masyarakat yang telah memiliki hubungan panjang dengan kawasan hutan.

Masyarakat sekitar taman nasional bukan seluruhnya pihak yang tidak memiliki keterikatan dengan kawasan. Sebagian mempunyai sejarah interaksi, pengetahuan lokal, serta ketergantungan ekonomi terhadap sumber daya alam, termasuk hasil hutan bukan kayu.

Kondisi tersebut membutuhkan pendekatan yang tidak semata-mata menempatkan masyarakat sebagai objek pengawasan. Mereka juga perlu mendapat ruang partisipasi melalui kemitraan yang memiliki dasar hukum, mekanisme, hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang jelas.

Baca Juga:Pembangunan Gedung Rawat Inap RSUD Talaga Sedot Anggaran Rp70 MiliarDari 8 Usulan Jalan Kabupaten Cirebon, Baru 1 Direalisasikan Lewat Program IJD

Di sinilah kemitraan konservasi menjadi penting. Hubungan Balai TNGC, pemerintah daerah, dan masyarakat perlu dibangun melalui kebijakan yang mampu menyelaraskan perlindungan ekosistem dengan kepentingan sosial ekonomi warga.

Tanpa pola kemitraan yang kuat, kepentingan konservasi berpotensi berhadapan dengan persoalan sosial masyarakat. Sebaliknya, kemitraan yang dirancang secara tepat dapat menjadi jalan untuk mempertemukan perlindungan keanekaragaman hayati dengan kesejahteraan masyarakat sekitar kawasan.Buku ini turut mengulas implementasi kemitraan, hak dan kewajiban para pihak, peran Balai TNGC, keterlibatan kelompok masyarakat, hingga berbagai hambatan yang muncul dalam pelaksanaannya.

Pentingnya peran masyarakat tersebut terlihat nyata dalam peristiwa kebakaran Gunung Ciremai. Kedatangan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi atau KDM ke lokasi kebakaran, membuat Gubernur dapat menyaksikan langsung beratnya upaya pemadaman di kawasan konservasi.

Di medan yang terjal dan sulit dijangkau, anggota MPA dan relawan harus berjalan menembus kawasan hutan. Mereka menghadapi kondisi lapangan yang tidak mudah, melakukan pemadaman menggunakan peralatan sederhana, memukul bara dengan ranting, hingga membuat sekat bakar untuk membatasi penyebaran api.

Kehadiran KDM di lokasi menjadi kesempatan melihat langsung bagaimana masyarakat mengambil bagian dalam upaya penyelamatan kawasan. Perjuangan para relawan tersebut memperlihatkan bahwa kemampuan mengenali karakter medan, pengetahuan lokal, dan kesediaan masyarakat terlibat merupakan kekuatan yang tidak bisa dipisahkan dari sistem konservasi.

Dadan menilai, pemadaman secara manual di kawasan pegunungan merupakan bagian dari penanganan awal yang penting, terutama ketika akses menuju titik api sangat terbatas.

0 Komentar