RADARCIREBON.ID – Kebakaran hutan di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) beberapa waktu lalu menyisakan pelajaran penting tentang pengelolaan kawasan konservasi. Ketika api menjalar di medan pegunungan yang terjal dan sulit dijangkau, masyarakat justru hadir di garis depan. Anggota Masyarakat Peduli Api (MPA) bersama relawan menembus kawasan hutan, berjibaku dengan bara api, membuat sekat bakar, hingga melakukan pemadaman secara manual.
Peristiwa tersebut memperlihatkan satu kenyataan yang tidak bisa diabaikan, konservasi tidak mungkin hanya mengandalkan pemerintah dan petugas taman nasional. Ada masyarakat yang memiliki hubungan historis, sosial, dan ekonomi dengan kawasan hutan, termasuk kelompok yang selama ini berkaitan dengan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK). Mereka juga tergabung kedalam Masyarakat Peduli Api atau MPA yang keberadaannya terbukti sangat dibutuhkan dalam upaya pencegahan dan penanganan kebakaran.
Persoalan itulah yang menjadi salah satu topik menarik dalam buku “Konstitusi Hijau” dan Masa Depan Kemitraan Konservasi dalam Pengelolaan TNGC, karya Dr. H. Dadan Taufik F., S.Hut., S.H., M.H., M.Kn., bersama Nandar Junar Arif, S.Hut. Buku tersebut resmi diluncurkan Rabu (4/11/2026), menawarkan perspektif hukum, kebijakan, dan model kemitraan untuk menjawab tantangan pengelolaan Taman Nasional Gunung Ciremai.
Baca Juga:Pembangunan Gedung Rawat Inap RSUD Talaga Sedot Anggaran Rp70 MiliarDari 8 Usulan Jalan Kabupaten Cirebon, Baru 1 Direalisasikan Lewat Program IJD
Salah seorang penulis, Akademisi, Dosen sekaligus Pemilik Salahsatu Kantor Pelayanan dan Pendampingan Hukum , Dr. H. Dadan Taufik F., menjelaskan, gagasan penulisan buku berangkat dari perkembangan pengelolaan TNGC dan kebutuhan membangun kesadaran bahwa kelestarian gunung merupakan tanggung jawab bersama.
Menurutnya, keberadaan taman nasional harus didukung bukan hanya oleh kesadaran masyarakat dan program pemerintah, melainkan juga regulasi yang memberikan kepastian dalam pengelolaannya.
Ia mengangkat filosofi Sunda yang menggambarkan gunung sebagai sosok yang mengandung dan memberikan kehidupan. Karena itu, manusia semestinya mencintai gunung sebagaimana menghormati ibu yang melahirkan dan membesarkannya.
“Gunung itu gunung anu ngandung. Artinya, kita harus mencintai gunung sebagaimana mencintai ibu kita sendiri. Kalau tidak mencintai, melestarikan, dan menjaganya, bagaimana masa depan lingkungan kita,” ungkap Dadan saat diwawancarai, Rabu (4/11/2026).
