INDRAMAYU-Pantai Utara (Pantura) Laut
Jawa di wilayah pesisir Bumi Wiralodra sudah lama digerus bencana abrasi
(pengikisan garis pantai oleh air laut, red).
Di wilayah pesisir Pantai
Eretan Wetan, Kecamatan Kandanghaur sendiri, bencana abrasi masih menjadi
sesuatu yang menakutkan bagi masyarakat setempat. Ratusan hektare tanah warga,
area tambak sampai permukiman penduduk dilumat rata dengan air laut oleh
bencana abrasi yang terjadi sejak puluhan tahun lalu.
Tak mau tinggal diam,
puluhan pemuda yang tergabung dalam Komunitas Peduli Pesisir Eretan (KPPE) lagi
berupaya melakukan penanggulangan abrasi. Berbarengan dengan itu, mereka juga
berusaha melindungi hutan mangrove yang kian terkikis sekaligus melestarikan
keberadaan hewan yang dilindungi.
Baca Juga:Koalisi Perubahan Sesumbar Tetap Solid, Launching 10 Bacabup dan BacawabupGelaran Singing Competition Grage Hotel, Wujud Kepedulian Terhadap Kreativitas Anak Muda
“Tidak hanya menanggulangi abrasi, kami juga berupaya menjadikan pesisir Eretan sebagai kawasan hutan bakau, pelestarian burung bangau dan ikan sehingga kedepannya bisa dikembangkan sebagai lokasi wisata bahari,” kata Ketua KPPE Suprapto didampingi Sekretaris Taufik kepada Radar Indramayu, kemarin (1/3).
Upaya yang dilakukan KPPE
diantaranya membuat pagar bambu yang dipasangan ribuan ban bekas motor sepanjang
sekitar 500 meter sejak akhir tahun 2019 lalu. Pagar ini berfungsi untuk
menyaring sedimen. Hasilnyapun menggembirakan. Di lokasi itu kini perlahan
mulai muncul tanah timbul yang nantinya dimanfaatkan untuk perluasan area hutan
mangrove.
Ikhtiar KPPE mendapat
dukungan dari banyak pihak. Seperti dari PT Pertamina Hulu Energi Offshore
North West Java (PHE ONWJ) yang turut menggelantorkan anggaran guna
penanggulangan abrasi. Demikian pula dari Pemerintah Desa Eretan Wetan.
“Kami sangat mendukung dan
mengapresiasi upaya yang dilakukan oleh KPPE. Tentu kami akan terus memberikan
sokongan,” tegas Kuwu H Edi Suhedi.
Dia membenarkan, tingkat
abrasi di Wilayah Pesisir Eretan semakin mengkhawatirkan. Bahkan pada beberapa
wilayah telah merusak infrastruktur pemukiman warga akibat tergerus gelombang
air laut yang semakin meluas dan menjorok ke daratan.
Ditambahkan Kuwu Edi,
sebelumnya di kawasan tersebut telah terdapat hutan bakau. Namun karena tidak
dikelola dengan baik menjadi hilang. “Semoga kedepannya apa yang dilakukan KPPE
ini bisa lestari sehingga tidak hanya menjadi pelindung pantai tetapi bisa
