CIREBON – Rumah Tini Wartini (55) warga RT 06 RW 17 Kriyan Barat kembali ambruk. Bantuan yang tak kunjung datang, menyebabkan satu persatu bagian rumahnya runtuh. Terakhir, dinding rumahnya.
Kepada Radar Cirebon, Tini mengaku pasrah. Ia tak mempunyai uang untuk memperbaiki kerusakan. Sehingga bekas reruntuhan dinding dibiarkan begitu saja. Ia beserta 2 orang anak dan seorang cucunya terpaksa tidur di bekas warung yang hanya berukuran 2,5 x 2,5 meter.
“Disuruhnya sih tidur di baperkam. Tapi karena ada yang masih ditempati, jadi tidurnya di sini saja. Ya tidurnya desak desakan,” kata Tini, kepada Radar Cirebon, Selasa (4/8).
Tini waswas rumahnya kembali ambruk. Terlebih dengan kondisi atap yang lapuk dan dinding yang miring. Sekarang ia tidak berani berlama-lama di sisa bangunan rumahnya. Hanya kamar mandi yang masih digunakan, karena tidak ada tempat lain yang bisa dimanfaatkan. “Kalau masak di luar. Yang susah mandi. Ya harus cepat-cepat. Takut ambruk lagi,” lanjutnya.
Ia pun berharap agar ada uluran tangan pemerintah untu membantu memperbaiki kerusakan pada rumahnya. Terlebih kondisinya saat ini yang sudah tidak bisa bekerja. Dua anak yang masih tinggal bersamanya juga baru saja mengalami PHK. “Mudah-mudahan ada bantuan supaya rumah saya bisa ditempati lagi,” ungkapnya.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua RW 17 Kriyan Barat, Bambang Jumantra mengatakan, pengajuan terkait permohonan bantuan renovasi rumah sudah diserahkan kepada walikota Cirebon melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DSP3A) Kota Cirebon. Namun hingga saat ini belum ada perkembangan. “Belum ada. Kita sih berharapnya cepat ya,” ucap dia.
Bambang melanjutkan, bangunan yang ditempati Tini kontruksinya tidak terlalu baik. Pasalnya tak ada balok beton yang menopang dinding. Sewaktu-waktu, dinding di bagian lain rumah bisa ambruk.
“Itu juga yang kita khawatirkan. Tembok rumahnya yang sudah miring, takutnya roboh lagi. Takutnya kena rumah tetangganya. Nanti repot lagi kalau roboh,” bebernya.
Di RW 17 Kriyan Barat, lanjut Bambang total tercatat ada 810 KK. Dari jumlah tersebut, lebih dari separuhnya masuk dalam kategori tidak mampu. Sementara terkait dengan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang berada di RW-nya tercatat ada lebih dari 10 yang sudah dilaporkan. “Beberapa rumah juga kondisinya sama. Ada yang tinggal nunggu robohnya saja,” tegas Bambang. (awr)
Ambruk karena Bantuan Tak Kunjung Datang
