“Indonesia ingin menunjukkan bahwa Islam yang kita kembangkan adalah Islam yang ramah, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan zaman, serta menjunjung tinggi prinsip keadilan sosial dan kemanusiaan,” ujarnya.
Menurut Abu Rokhmad, kehadiran Mushaf Alquran Isyarat di forum literasi internasional juga memperkuat posisi Indonesia sebagai rujukan dalam pengembangan mushaf Alquran, sekaligus membuka peluang kolaborasi lintas negara.
Senada, Sekretaris Ditjen Bimbingan Masyarakat Islam, Lubenah menjelaskan bahwa keikutsertaan Indonesia di CIBF telah dipersiapkan secara matang melalui sinergi berbagai pihak.
Baca Juga:Banyak Penumpang Angkot di Kota Cirebon Bayar Tak Sesuai TarifMCU dan Disiplin Semi Militer Gugurkan Peserta Diklat Petugas Haji 2026
“Kami tidak hanya menampilkan mushaf secara fisik, tetapi juga menghadirkan edukasi melalui demonstrasi, video pembelajaran, serta interaksi langsung dengan pengunjung,” ujar Lubenah.
Ia menambahkan, pengenalan pedoman membaca dan sesi praktik isyarat menjadi bagian dari strategi edukasi agar pengunjung memahami konsep Mushaf Alquran Isyarat secara menyeluruh.
“Kami berharap Mushaf Alquran Isyarat ini terus dikembangkan dan disebarluaskan, baik di dalam negeri maupun mancanegara, melalui pelatihan, digitalisasi, dan kerja sama dengan lembaga pendidikan serta komunitas tuli,” ujarnya. (mpw/dsw)
