Jalur Kereta Api Penghubung Pelabuhan dan Stasiun Kejaksan Dibongkar, Jejak Sejarah 1910 Hilang dari Cirebon

Jalur Kereta Api Penghubung Pelabuhan dan Stasiun Kejaksan Dibongkar
HILANG: Jembatan kereta api Kalibaru setelah dibongkar (Foto Kanan). DULU JALUR PENTING: Jembatan kereta api Kalibaru tahun 1910. Foto: seno dwi priyanto/radar Cirebon - IG Cirebon Story
0 Komentar

Chaidir menekankan, meski alasan teknis valid, seharusnya sosialisasi dilakukan. “Seperti pembongkaran PKL, masyarakat perlu diberi informasi,” katanya. Tanpa sosialisasi, pembongkaran berpotensi menimbulkan kritik dari pegiat budaya dan lingkungan.

Perlu diketahui, jembatan Kalibaru bukan satu-satunya jembatan kereta api peninggalan Belanda di Cirebon. Di Drajat dan jalur lain juga ada jembatan serupa. Yang masuk cagar budaya adalah stasiun, seperti Stasiun Kejaksan dan Stasiun Parujakan. Rel dan jembatan kereta tidak termasuk, sehingga secara hukum pembongkaran sah.

Sejarah jalur Kalibaru mengungkapkan pentingnya jalur kereta untuk kegiatan ekspor-impor lokal. Produksi pertanian dari Jawa Barat bagian timur diangkut ke pelabuhan melalui rel ini. Infrastruktur jalan belum memadai saat itu. Jalur kereta menjadi tumpuan pengiriman komoditas ke pelabuhan, termasuk barang yang menuju Tanjung Priok.

Baca Juga:WFH ASN Kota Cirebon, Kamis Bike to Work, Jumat Kerja dari RumahEra Baru Kemitraan Indonesia dan Republik Korea

Dengan hadirnya stasiun Kejaksan, transportasi kereta lebih efisien. Namun setelah beberapa tahun, jalur Kalibaru berhenti beroperasi karena jalur darat berkembang. Jalan menuju Indramayu dari Jalan Siliwangi ke Krucuk dan Klayan mulai terbuka.

Jembatan Kalibaru memiliki nilai historis teknis dan budaya. Desain besi, sambungan, dan fondasinya mencerminkan teknik pembangunan awal abad ke-20. Foto lama menunjukkan struktur kokoh yang mampu menahan beban kereta barang. Foto modern memperlihatkan degradasi akibat usia dan lingkungan sungai yang lembap.

Chaidir menambahkan, meski tidak masuk cagar budaya, keberadaan jembatan tetap bernilai sejarah. “Ini bagian perjalanan Kota Cirebon. Infrastruktur transportasi yang pernah menghidupkan perekonomian kota,” katanya.

Ya, jalur Kalibaru mengingatkan pada masa ketika Cirebon menjadi pusat distribusi komoditas. Infrastruktur kolonial mendukung perdagangan dan ekspor. Stasiun dan jembatan menjadi saksi perkembangan kota.

Masyarakat, menurut Chaidir, perlu diberi akses informasi terkait pembongkaran. Transparansi dianggap penting untuk menghindari kesan pembongkaran semena-mena. “Kalau bukan cagar budaya, harus dijelaskan agar tidak menimbulkan reaksi negatif,” ujarnya.

Sejarawan mencatat, jembatan dibangun antara 1910–1914, aktif sekitar empat tahun, menghubungkan stasiun Kejaksan dan Pelabuhan Cirebon. Jalur ini menjadi jalur utama ekspor-impor pada masa kolonial. Stasiun Kejaksan dibangun 1912, menjadikan rel Kalibaru penting untuk mengangkut barang dari wilayah Jawa Barat timur.

0 Komentar