RADARCIREBON.ID – Jembatan kereta api Kalibaru yang menghubungkan Pelabuhan Cirebon dengan Stasiun Kejaksan dibongkar. Struktur besi tua itu berusia lebih dari satu abad, beroperasi tahun 1910-1914.
Jembatan itu pernah menjadi jalur vital transportasi barang pada masa kolonial Belanda. “Ini jantung ekonomi Cirebon saat itu,” kata Raden Chaidir Susilaningrat, budayawan Cirebon kepada Radar Cirebon.
Jembatan Kalibaru sendiri sudah tidak berfungsi sejak lama. Jalan rel di sekitar jembatan masih cukup luas. Pemulihan jalur kereta kembali dianggap tidak praktis.
Sejarawan dan budayawan menilai pembongkaran ini menghapus jejak sejarah.
Baca Juga:WFH ASN Kota Cirebon, Kamis Bike to Work, Jumat Kerja dari RumahEra Baru Kemitraan Indonesia dan Republik Korea
Raden Chaidir menyebut jembatan tidak termasuk cagar budaya. Tapi, mestinya ada informasi publik sebelum dibongkar. Dalam catatan sejarah, jalur kereta Kalibaru, atau Kalianyar pada catatan Belanda, menghubungkan pelabuhan dengan stasiun utama di Kota Cirebon.
Jalur ini melewati daerah Syekh Magelung, Jalan Siliwangi dekat Pasar Pagi, dan berlanjut ke Jalan KS Tubun. Jembatan ini, kata Chaidir, menjadi bagian dari rantai jalur yang mendukung transportasi ekspor-impor di awal abad ke-20.
Di masa kolonial, transportasi darat masih terbatas. Jalan Raya Pos dan Jalan Dendless menjadi infrastruktur utama, tapi belum bisa mengakomodasi volume barang yang tinggi. Jalur kereta, termasuk jembatan Kalibaru, menjadi sarana utama pengangkutan hasil pertanian dan komoditas ekspor ke Pelabuhan Cirebon yang saat itu dikenal sebagai Tanjung Mas (sekarang Muara Jati).
Stasiun Kejaksan sendiri dibangun tahun 1912. Dengan hadirnya stasiun ini, jalur Kalibaru menjadi penting. Namun fungsinya hanya berlangsung singkat. Dari dokumen sejarah, jalur ini aktif sekitar empat tahun, 1910-1914. Infrastruktur jalan mulai berkembang, membuat jalur kereta kurang efektif.
Chaidir menekankan, keberadaan jembatan memiliki nilai sejarah tinggi. “Bangunan-bangunan seperti ini memiliki cerita ekonomi, sosial, dan teknis yang penting,” katanya. Jembatan berfungsi sebagai penghubung jalur ekspor dan simbol kemajuan transportasi pada era kolonial.
Data yang diterima Radar Cirebon, pembongkaran sendiri demi proyek revitalisasi kawasan Sukalila dan Kalibaru. Sampah sering tersangkut di jembatan dan menghambat aliran air. Selain itu, tinggi jembatan yang rendah berisiko memicu banjir saat sungai penuh. Di lokasi itu, rencananya trotoar baru akan dibangun lebih aman dan nyaman.
