MBG, Antara Prasangka dan Fakta Lapangan, 3 Realita Harus Jadi Perhatian

Ilustrasi dapur MBG
Ilustrasi MBG. (radarcirebon)
0 Komentar

2. Harga yang Memanusiakan Petani

Salah satu masalah klasik pertanian kita adalah harga yang anjlok saat panen raya. Dalam skema B2B sebagai supplier resmi, kontrak kerja didasarkan pada kesepakatan harga yang stabil dan transparan. Ini bukan soal “mencari celah,” tapi soal memastikan keringat petani dibayar dengan angka yang adil.

3. Termin Pembayaran yang Sehat

Banyak UMKM tumbang karena piutang yang macet atau termin pembayaran (TOP) yang terlalu lama hingga berbulan-bulan. Pihaknya mendorong sistem yang memastikan arus kas (cashflow) supplier tetap sehat dengan termin pembayaran yang singkat. Karena bagi UMKM, cash is king.

Dia pun menyoroti soal “Halal-Haram” dan “Proyek Korupsi”. Baginya korupsi merupakan perilaku oknum. Sementara menyuplai bahan pangan berkualitas untuk anak-anak sekolah adalah amal saleh.

Baca Juga:AS – Iran Batal Damai, 5 Hal Ini Jadi Pengganjal, Salah Satunya soal Selat HormuzPerundingan Damai Berakhir Buntu, AS – Iran Siap Lanjutkan Perang

Justru, menurutnya, jika semua apatis dan menjauh dari MBG hanya karena takut dicap “main proyek,” maka siapa yang akan mengisi slot supplier tersebut? “Jika orang-orang jujur memilih mundur, jangan salahkan jika nanti posisi itu diisi oleh para mafia yang memang hanya mencari keuntungan pribadi,” tandasnya.

Dengan workshop dan sharing session, dirinya ingin membekali para petani dan UMKM. Tujuannya mereka paham standar kualitas, manajemen profesional, dan cara masuk ke sistem secara legal tanpa perlu “menyuap” kiri-kanan.

“Mencari nafkah dari menyuplai beras, telur, sayur, dan daging yang dimakan untuk kecerdasan anak bangsa adalah jalan yang sangat mulia. Insya Allah, setiap butir nasi yang mereka makan akan jadi saksi bahwa ada petani lokal yang bekerja keras secara halal,” urainya.

Dia pun mempertanyakan apakah orang baik tetap akan menjadi penonton yang sinis? Atau, mengambil bagian menjadi pemain yang memberi dampak? “Bismillah, mari kita kuatkan ekonomi umat dari dapur sendiri,” ajaknya.

0 Komentar