RADARCIREBON.ID – Permasalahan sampah saat ini menjadi perhatian serius di Kabupaten Indramayu.
Bupati Indramayu, Lucky Hakim mengakui, keterbatasan anggaran serta minimnya armada pengangkut sampah, masih menjadi kendala utama dalam penanganan sampah di daerah tersebut.
“Armada pengangkut sampah memang masih kurang dan perlu ditambah. Idealnya, setiap kecamatan memiliki tiga unit truk pengangkut sampah. Namun saat ini, rata-rata hanya tersedia satu unit untuk satu kecamatan, dan itu pun harus digunakan bersama dengan kecamatan lain,” ujar Bupati Indramayu Lucky Hakim kepada wartawan.
Baca Juga:Hidupkan UMKM di Indramayu, Pemkab Perluas Area CFNModernisasi Pertanian di Indramayu, Sistem PM-AAS Bisa Hasilkan 10 Ton per Hektare
Sebagai langkah untuk mengatasi persoalan tersebut, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Indramayu berencana berkonsultasi sekaligus meminta persetujuan kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terkait penggunaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) untuk pengadaan armada pengangkut sampah.
“Saya sudah berkomunikasi dengan Pak Gubernur dan Sekda Jawa Barat, dan pada prinsipnya diperbolehkan. Namun saya masih ingin meminta pendapat dari pemerintah pusat, dalam hal ini Kemendagri, terkait penggunaan BTT untuk penanganan sampah, agar dalam satu hingga dua bulan ke depan persoalan sampah bisa segera tertangani,” jelas Lucky Hakim.
Selain menambah armada, Pemkab Indramayu juga mencanangkan program penanganan sampah terpilah melalui sekolah-sekolah, mulai dari tingkat Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Menurut Lucky, penerapan program sampah terpilah lebih mudah dimulai dari lingkungan sekolah. Karena, para siswa dinilai memiliki kedisiplinan yang baik. Ia mencontohkan keberhasilan program tersebut di Kecamatan Karangampel. Di mana, pihak sekolah bersama wali murid berkomitmen mengajak siswa membawa sampah plastik dari rumah.
“Alhamdulillah, program itu sudah berjalan selama satu bulan dan berhasil. Sampah plastik yang terkumpul dijual dan menghasilkan uang, tentu itu cukup membantu. Bayangkan jika satu sekolah mampu mengumpulkan tiga sampai lima kuintal sampah plastik dalam sebulan, lalu dikalikan jumlah sekolah di Kabupaten Indramayu, tentu jumlah sampah yang bisa ditangani akan sangat besar,” ujarnya.
Lucky optimistis, program tersebut akan efektif karena sampah yang dipilah memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dibanding sampah yang tercampur.
