MBG, Antara Prasangka dan Fakta Lapangan, 3 Realita Harus Jadi Perhatian

Ilustrasi dapur MBG
Ilustrasi MBG. (radarcirebon)
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Ada tulisan menarik tentang program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tulisan itu membedah tentang banyaknya prasangka dan fakta di lapangan yang luput dari perhatian.

Bahkan, tulisan itu juga menegaskan tiga hal yang harus menjadi perhatian serius. Bukan hanya sekadar prasangka dan caci maki tentang program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu.

Yang menulis adalah Brili Agung Zaky Pradika, seorang pengusaha dan penggiat media sosial. Tulisannya di beri judul “Menjemput Rezeki Halal di Dapur MBG: Antara Prasangka dan Fakta Lapangan”.

Baca Juga:AS – Iran Batal Damai, 5 Hal Ini Jadi Pengganjal, Salah Satunya soal Selat HormuzPerundingan Damai Berakhir Buntu, AS – Iran Siap Lanjutkan Perang

Dalam tulisannya Brili mengungkapkan pernah membagikan sharing session tentang UMKM dan petani lokal bisa mengambil bagian menjadi supplier program MBG.

Tapi dia tergelitik dengan satu komentar yang mampir di media sosial miliknya. “Insyaf bray, proyek korupsi berkedok program, malah dibuat seminar lah, workshop lah. Mending anda cari duit yg caranya halal aja, apalagi kalau itu sampai dimakan oleh anak, istri dan keluarga anda,” tulis ulang Brili di Facebook.

Brili mengaku tidak marah membaca tulisan itu. Bahkan dia hanya tersenyum. Dia sangat menghargai kepeduliannya soal keberkahan harta. “Namun, mari kita dudukan persoalannya dengan kepala dingin dan kacamata pengusaha,” pintanya.

Dia berprinsip tidak mau menghakimi kebijakan. Justru dia berpendirian agar kebijakan itu benar-benar sampai dan bermanfaat bagi rakyat kecil di bawah.

Karenanya, dia justru mendorong petani dan UMKM lokal bertransformasi menjalin Business to Business (B2B) untuk menyuplai dapur MBG. Hal tersebut jauh lebih penting dari pada hanya berprasangka buruk terhadap program MBG.

Menurutnya ada tiga realita di lapangan yang selama ini menjadi “hantu” bagi petani. Sementara program MBG mempunyai potensi menjadi solusinya. Ketiga hal tersebut menurut Brili adalah:

1. Memutus Rantai Tengkulak (Akses Dekat)

Selama ini, petani kita sering kalah di ongkos kirim dan rantai distribusi yang terlalu panjang. Dengan adanya dapur-dapur MBG yang tersebar di tiap wilayah, akses serapan hasil panen jadi sangat dekat. Petani tidak perlu lagi mengirim barang ke luar kota hanya untuk mendapatkan harga yang layak.

0 Komentar