Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap skema murur dan tanazul sebagai bagian dari inovasi pelayanan haji. Kedua skema tersebut dinilai dapat memberi kemudahan bagi jemaah dalam kondisi tertentu di Tanah Suci. Namun, keberhasilannya sangat bergantung pada validitas data serta sosialisasi yang menyeluruh agar jemaah memahami mekanisme yang diterapkan.
Dalam aspek lain, ia mengingatkan pentingnya transparansi tata kelola dam atau denda penyembelihan hewan. Jika dam dilaksanakan di Arab Saudi, jamaah diminta mengikuti mekanisme resmi melalui Proyek Adahi agar akuntabilitas tetap terjaga dan pelaksanaannya sesuai ketentuan syariat.
Menutup arahannya, Gus Irfan mengajak seluruh jajaran PPIH embarkasi bekerja secara solid dan terkoordinasi dalam satu sistem pelayanan yang utuh. Ia menegaskan bahwa keberhasilan penyelenggaraan ibadah haji bukan hanya diukur dari aspek teknis, tetapi juga dari kualitas pelayanan yang benar-benar dirasakan jamaah selama menjalani proses keberangkatan hingga pelaksanaan ibadah.
Baca Juga:Kepala Rutan Kelas I Cirebon BergantiRaih Bronze Medal di Cisco NetAcad Riders 2026
“Kerja kita adalah ibadah. Maka, lakukan dengan penuh tanggung jawab, integritas, dan keikhlasan demi memberikan pelayanan terbaik bagi jemaah haji Indonesia,” pungkasnya. (dsw)
