INDRAMAYU – Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas RI) terus memperkuat gerakan literasi nasional melalui peluncuran program Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Tahun 2026.
Kegiatan tersebut diikuti ratusan peserta dari berbagai daerah di Indonesia, termasuk para Relima dari 322 kabupaten dan kota.
Kepala Perpustakaan Nasional RI, E Aminudin Aziz dalam sambutannya menegaskan, penguatan literasi menjadi salah satu bagian penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa. Menurutnya, tingkat kecerdasan masyarakat saat ini tidak hanya diukur dari pendidikan formal semata, tetapi juga dari kemampuan literasi yang dimiliki masyarakat.
Baca Juga:Perkuat Sinergi Pengelolaan Sampah, Bupati Indramayu Hadiri Rakor Khusus di Bale PakuanPengurus AMKI Indramayu Dilantik, Bupati Lucky Tekankan Pentingnya Kode Etik Jurnalistik
Ia menyampaikan bahwa tingkat literasi masyarakat Indonesia masih menjadi tantangan besar karena berada pada kisaran angka 44 hingga 48. Kondisi tersebut dinilai perlu mendapat perhatian serius bersama, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan bangsa di masa mendatang.
“Literasi bukan hanya kemampuan membaca, tetapi bagaimana masyarakat mampu memahami informasi, berpikir kritis, dan memanfaatkannya untuk kehidupan yang lebih baik,” ujar Aminudin saat peluncuran Relima 2026.
Aminudin menjelaskan, meskipun Perpusnas menghadapi efisiensi anggaran hingga hampir 48 persen yang berdampak pada sejumlah program bantuan, pihaknya tetap berupaya mengoptimalkan gerakan literasi masyarakat melalui peran aktif para Relima di daerah. Para relawan didorong menjadi penggerak dalam pemanfaatan bantuan buku serta berbagai aktivitas literasi agar lebih berdampak di tengah masyarakat.
“Jumlah Relima pada tahun 2026 meningkat menjadi 360 orang yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Para relawan diharapkan lebih kreatif dan aktif menjalankan program literasi di lapangan dengan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, komunitas, hingga sektor swasta,” jelasnya.
Sementara itu, salah satu Relima Kabupaten Indramayu, Ahmad Khoeri, gerakan optimalisasi literasi masyarakat harus menjadi perhatian serius seluruh pemangku kebijakan. Menurutnya, pembangunan literasi tidak dapat berjalan maksimal tanpa dukungan kebijakan yang berpihak pada penguatan budaya baca dan penyediaan ruang belajar bagi masyarakat.
“Gerakan optimalisasi literasi di masyarakat harus mendapat perhatian penting dari para pemangku kebijakan. Karena ketika masyarakat sadar literasi, tentu pembangunan bangsa akan lebih unggul, masyarakat menjadi lebih kritis, dan generasi muda akan lebih siap menuju Generasi Emas 2045,” ujarnya.
