RADARCIREBON.ID – Selebritas sekaligus anggota DPR RI, Uya Kuya, mengaku terkejut dengan isu yang menyebut dirinya memiliki 750 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Ia menilai tudingan tersebut tidak masuk akal dan cenderung mengarah pada upaya sistematis untuk menjatuhkan reputasinya di ruang publik.
Menurut Uya, narasi yang beredar di berbagai platform media sosial memiliki pola kalimat yang seragam. Hal ini memicu kecurigaannya bahwa ada pihak tertentu yang sengaja menggerakkan isu tersebut secara terorganisir. Ia menegaskan bahwa informasi tersebut sepenuhnya tidak benar dan merupakan fitnah yang sengaja disebarkan.
“Setipe, jadi kayak memang ada yang sengaja menggerakkan ini. Dan itu saya jamin 1.000 persen fitnah dan hoaks,” kata Uya saat ditemui di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (21/4/2026).
Baca Juga:Merajut Momen Sekali Seumur Hidup di Aston CirebonSantri Al Hikmah Raih Best Research Award di National Essay Competition
Suami dari Astrid Khairunisha ini juga menyoroti waktu kemunculan isu yang dianggap janggal. Ia menyebut kabar tersebut muncul tak lama setelah dirinya diangkat sebagai Ketua PAN DKI Jakarta. Menurutnya, momentum ini menimbulkan tanda tanya besar terkait motif di balik penyebaran informasi tersebut.
“Dan gua juga bingung ya, ini terjadi waktu baru beberapa hari gua diangkat jadi Ketua PAN DKI Jakarta, sudah dicoba kayak begini,” ungkapnya.
Uya kembali menegaskan bahwa dirinya tidak memiliki keterlibatan seperti yang dituduhkan. Ia memastikan bahwa kabar tersebut tidak berdasar dan hanya bertujuan untuk merusak citranya sebagai figur publik dan politisi.
“Saya jamin 1.000 persen itu fitnah dan hoaks,” tegasnya.
Merasa dirugikan, Uya Kuya mengambil langkah tegas dengan membawa kasus ini ke ranah hukum. Ia melaporkan dugaan penyebaran hoaks tersebut ke Direktorat Siber Polda Metro Jaya pada Sabtu malam.
“Iya, saya laporkan ke Polda Metro Jaya, di cyber Polda Metro Jaya, Sabtu malam kemarin,” jelasnya.
Ia menyebut telah melaporkan sekitar 8 hingga 10 akun yang diduga terlibat dalam penyebaran isu tersebut. Akun-akun tersebut berasal dari berbagai platform seperti Threads, X, Facebook, dan Instagram.
Bahkan, beberapa unggahan yang telah dihapus tetap dijadikan bukti melalui tangkapan layar.
