Kesamaan ini menjadi catatan penting. Di tengah perbedaan metode yang selama ini dikenal masyarakat, tahun ini perbedaan itu justru bermuara pada tanggal yang sama. Muhammadiyah menggunakan kriteria wujudul hilal, sementara pemerintah memadukan hisab dan rukyat. Namun perbedaan pendekatan tidak menghalangi lahirnya satu momentum bersama.
Bagi masyarakat, kesamaan itu bukan hanya soal teknis penanggalan. Ada rasa lega karena umat dapat menyambut Idul Adha dalam irama yang serempak. Tak ada kebingungan membagi waktu, tak ada kegamangan menentukan hari puncak ibadah, dan tak ada jarak psikologis yang kerap muncul ketika perayaan berlangsung berbeda. Yang hadir justru ruang kebersamaan yang lebih lapang.
Menteri Agama pun menyambut situasi ini dengan rasa syukur. Ia mengajak umat Islam Indonesia menjadikan Idul Adha bukan sekadar perayaan tahunan, tetapi juga momentum memperkuat solidaritas sosial. Sebab, inti dari hari raya kurban tidak berhenti pada penyembelihan hewan, melainkan berlanjut pada makna pengorbanan, keikhlasan, dan kepedulian terhadap sesama.
Baca Juga:Pemkab Cirebon Bangun 446 Rumah RutilahuLatar Belakang Kandidat?, Pansel Umumkan Calon Dewan Pengawas dan Direksi BUMD Kota Cirebon
“Kita bersyukur tahun ini tidak ada perbedaan yang signifikan. Mari kita jadikan momen Idul Adha sebagai ajang memperkuat solidaritas sosial dan kepedulian terhadap sesama,” pungkas Nasaruddin Umar.
Dengan penetapan ini, Hari Arafah yang jatuh pada 9 Zulhijah akan bertepatan dengan Selasa, 26 Mei 2026. Itu berarti masyarakat memiliki kepastian untuk mulai menyiapkan berbagai kebutuhan menyambut hari raya, mulai dari perencanaan mudik, persiapan panitia kurban, hingga pengaturan distribusi hewan kurban agar berjalan tertib, aman, dan tepat sasaran.
Pada akhirnya, keputusan tentang tanggal Idul Adha selalu lebih dari sekadar angka. Ia menyangkut ritme kehidupan jutaan orang, harapan akan kebersamaan, dan semangat berbagi yang menjadi inti perayaan. Tahun ini, ketika pemerintah dan Muhammadiyah melangkah pada tanggal yang sama, ada pesan sederhana yang terasa kuat: perbedaan cara tidak selalu berujung pada jarak, kadang justru mengantar pada perjumpaan. (dsw)
