Ia menegaskan bahwa setiap tahapan dalam tradisi tersebut menjadi wujud kebersamaan warga dalam menjaga warisan leluhur secara gotong royong. Seluruh proses, mulai dari persiapan hingga pelaksanaan puncak, dilakukan dengan keterlibatan masyarakat tanpa sekat. “Buka Sirap ini bukan sekadar mengganti penutup makam, tapi juga menjaga amanah leluhur,” ujarnya kepada Radar Cirebon.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kekuatan utama tradisi ini terletak pada partisipasi masyarakat yang sepenuhnya terlibat secara sukarela. Menurutnya, tanpa kebersamaan warga, tradisi ini tidak akan dapat berjalan dan bertahan hingga saat ini. “Ini yang membuat tradisi ini tetap ada sampai sekarang karena dilakukan dari warga, oleh warga dan untuk warga,” pungkasnya. (*)
