Mengenal Alya, Penulis Cilik Baru Indonesia, Luncurkan Tiga Buku Berbahasa Inggris di Usia 9 Tahun

Mengenal Alya, Penulis Cilik Baru Indonesia
ANAK HEBAT: Putri Alya Sidik diapit kedua orang tuanya Mahfudz Sidik dan Agatha Lily di sela-sela peluncuran buku di Jakarta, Selasa (9/6/2026). Foto: MS FOR RADAR CIREBON
0 Komentar

Masih menurut Gregoria Ira, kemampuan membaca dan menulis adalah alat utama untuk membentuk cara anak dalam berfikir, berkomunikasi, dan memahami dunia.

Sementara menurut Wahyu Kusnadi, guru Bahasa Inggris yang juga editor dari ketiga buku yang ditulis Alya, rendahnya Indeks Kecakapan Bahasa Inggris pada siswa sekolah di Indonesia, khususnya di tingkat dasar, penyebab utamanya bermula dari kebijakan kurikulum. Indonesia menjadi satu-satunya negara di ASEAN yang tidak mewajibkan bahasa Inggris di jenjang SD.

“Pada kurikulum 2013, bahasa Inggris diturunkan statusnya menjadi mata pelajaran pilihan. Akibatnya banyak sekolah dasar yang meniadakan pelajaran ini karena keterbatasan sumber daya pengajar. Pada kurikulum Merdeka 2025, bahasa Inggris kembali dijadikan mata pelajaran pilihan menuju wajib, yang ditargetkan diimplementasikan secara penuh pada tahun ajaran 2026/2027. Namun masa transisi ini masih menyisakan sejumlah kendala,” jelas Wahyu, yang sudah 17 tahun mengajar Bahasa Inggris di Delima School Jakarta.

Baca Juga:Dugaan Pelanggaran Kode Etik yang Melibatkan HSG, Eti: Kami Menunggu Proses yang Sedang BerjalanNasib Kasiyati yang Tersisih dari Program Rutilahu, Berkali-kali Mengajukan tapi Tak Terealisasi

Dalam mengatasi kendala di atas, Wahyu mendesak pemerintah untuk segera memenuhi kebutuhan tenaga pengajar bahasa Inggris dengan kompetensi standar untuk sekolah jenjang dasar. “Penyediaan buku-buku bacaan berbahasa Inggris untuk sekolah yang sesuai dan mendukung kurikulum juga sangat penting. Apalagi harga buku bacaan berbahasa Inggris relatif mahal,” tandas Wahyu.

Kehadiran Alya menambah jumlah penulis cilik Indonesia yang menulis buku dalam bahasa Inggris. Di antaranya ada nama Deliang Al-Farabi, Nadia Shafiana Rahma, dan Karinda Susanto.

Menurut Ferris Affan, pegiat dunia pendidikan yang juga Principal Delima School Jakarta, kemunculan penulis seperti Alya didorong oleh tren sekolah dwibahasa (bilingual/international school), akses teknologi media, dan meningkatnya kesadaran orang tua terhadap literasi sejak dini.

“Kami mewajibkan seluruh siswa jenjang dasar untuk menggunakan bahasa Inggris di sekolah, begitupun para pendidiknya. Ini bagian dari upaya meningkatkan Indeks Kecakapan Berbahasa Inggris di kalangan siswa SD,” jelas Feries. (*)

0 Komentar