RADARCIREBON.ID – Kekeringan akibat musim kemarau panjang semakin dirasakan petani di wilayah Kabupaten Indramayu bagian barat. Kondisi tersebut terlihat dari Bendungan Cipancuh yang berada di Desa Situraja, Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jumat (14/8). Bendungan yang menjadi salah satu sumber pengairan bagi lahan pertanian itu, kini semakin mongering. Sehingga, petani terpaksa mengandalkan sistem pompanisasi untuk memenuhi kebutuhan air tanaman di lahan mereka.
Petani Desa Situraja, Suryadi (50) mengatakan, kondisi Bendungan Cipancuh mulai mengering sejak beberapa minggu lalu, dan kini kondisinya semakin parah. Menurutnya, situasi tersebut membuat petani harus mencari berbagai cara untuk menyelamatkan tanaman padi agar tidak mengalami kekurangan air.
“Terus terang saja, air itu jadi kebutuhan yang paling penting untuk pertanian. Sekarang kondisi bendungan sudah kering, bahkan sudah ditumbuhi rumput. Ada sedikit air, cuma tidak mengalir alias menggenang,” ujar Suryadi.
Baca Juga:28 Siswa SMP dan SMA Juara Wirautama Resmi Jadi Pramuka GarudaKuningan Mulai Kembangkan Bawang Putih, Kapolda Jabar Turun Tangan
Ia menambahkan, dampak kekeringan tahun ini dirasakan jauh lebih parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Biasanya, meskipun debit air berkurang saat musim kemarau, aliran air masih dapat mencapai pintu-pintu air dan dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian.
Namun, kondisi tahun ini berbeda. Aliran air di Bendungan Cipancuh telah terhenti sepenuhnya. Dasar bendungan yang sebelumnya menjadi tempat penampungan air, kini mulai terlihat tanahnya, dan sebagian telah ditumbuhi rumput.
Berbagai upaya dilakukan petani untuk mempertahankan tanaman padi agar tetap mendapatkan pasokan air. Salah satunya dengan menyedot air dari sungai terdekat menggunakan mesin pompa, terutama bagi lahan yang masih berada dalam jangkauan sumber air.
Akan tetapi, tidak semua lahan pertanian memiliki akses terhadap sumber air. Petani yang sawahnya berada jauh dari sungai, harus menghadapi risiko tanaman kekurangan air, bahkan terancam gagal panen apabila kondisi tersebut terus berlangsung.
“Pernah membuat sumur bor, tapi sia-sia karena tidak ada hasilnya. Air tidak keluar. Daripada membuang biaya, tetapi air tidak ada, akhirnya kami memanfaatkan air sungai meskipun harus menggunakan mesin pompa air dan membutuhkan biaya lebih,” kata Suryadi.
