RADARCIREBON.ID – Siswa dan siswi MTs Sekolah Alam Indramayu sukses mencuri perhatian publik saat tampil dalam ajang Car Free Night (CFN) yang digelar di kawasan Pasar Mambo, Jumat malam (19/6/2026).
Penampilan mereka dalam pentas seni bertema Mapag Tamba berlangsung meriah dan mendapat sambutan antusias dari para penonton.
Dengan balutan kreativitas dan kekompakan, para pelajar menampilkan pertunjukan seni yang memadukan unsur tradisional dan modern.
Baca Juga:FIKK UNJ Gelar Pelatihan Model Gerak Dasar Manipulatif untuk Perkuat Teaching Efficacy Belief Guru PJOKFIKK UNJ Gelar Pelatihan PBL-Flipbook untuk Tingkatkan Kompetensi Guru PJOK SMA Jakarta Timur
Aksi panggung yang energik, dipadukan dengan penghayatan yang kuat dari para pemain, membuat suasana malam semakin hidup dan menghibur masyarakat yang hadir.
Dalam pementasan tersebut, para pemain yang tampil antara lain Rori Agathsia Galih, Muhammad Adam, M Nabil, Faris Zahran Al-Aufa, Fathan Dzikrullah.
Kemudian, Fakhriyanda Aufa Zaky, Alimur Azhar, Hafshah Hanfah Hanin, Nadyla Safa Azzahra, dan Faoza Doulhaqq. Sementara itu, peran narator dibawakan oleh Rania Talitha.
Pementasan tersebut disutradarai oleh Boedi Poernomo, di bawah pembinaan Jaenal Abidin. Keduanya turut memberikan sentuhan artistik sekaligus nilai edukatif dalam setiap adegan yang ditampilkan.
Para penonton yang memadati kawasan Pasar Mambo Indramayu tampak memberikan apresiasi tinggi.
Hal itu terlihat dari tepuk tangan meriah yang mengiringi setiap penampilan para siswa. Tidak sedikit pula pengunjung yang mengabadikan momen tersebut menggunakan telepon genggam mereka.
Bahkan, karena begitu menikmati jalannya pertunjukan, sejumlah penonton rela merogoh kocek untuk memberikan saweran kepada para pemain.
Baca Juga:Keren! SSB Garuda Jaya KU 10 Kabupaten Cirebon Tembus Zona Provinsi Liga Jabar Istimewa 2026Kejutan Besar di Launching PSGJ Cirebon: Euforia Pasoegati hingga Datangnya Dua Eks Persib
Nilainya pun mencapai ratusan ribu rupiah sebagai bentuk apresiasi terhadap penampilan yang disuguhkan.
Dewan Pembina kegiatan, Jaenal Abidin, melalui Sutradara Boedi Poernomo menjelaskan, pementasan Mapag Tamba bukan sekadar pertunjukan seni, melainkan mengandung makna filosofis yang mendalam.
“Mapag Tamba adalah simbol perjalanan batin masyarakat agraris dalam menyambut musim tanam. ‘Mapag’ berarti menjemput atau menyambut, sementara ‘Tamba’ bermakna obat atau penyembuhan,” ujarnya.
Ia menjelaskan, ritual tersebut menggambarkan harapan masyarakat untuk memulihkan keseimbangan alam sekaligus memohon perlindungan agar tanaman padi terhindar dari serangan hama maupun penyakit.
“Melalui teater ini, kami ingin menanamkan kepada generasi muda bahwa budaya lokal bukan hanya warisan, tetapi juga sumber nilai kehidupan tentang rasa syukur, kebersamaan, dan hubungan manusia dengan alam,” pungkasnya. (dun/adv)
