RADARCIREBON.ID- Komitmen Pondok Pesantren (Ponpes) Ketitang Cirebon dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman dan ramah bagi anak mendapat apresiasi dari Sekretaris Dewan Pembina Pimpinan Pusat Muslimat NU, Yenny Wahid.
Di tengah berbagai kasus yang mencoreng nama lembaga pendidikan keagamaan, Yenny menilai gerakan pesantren ramah anak menjadi langkah penting untuk menjaga marwah dan kepercayaan publik terhadap pesantren.
Putri kedua Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid itu mengaku terharu melihat konsistensi Ponpes Ketitang dalam mengampanyekan gerakan pesantren ramah anak. Menurut Yenny, sejak mendeklarasikan Gerakan Jaringan Pondok Pesantren Ramah Anak (JPPRA) pada 23 Juni 2023, Ponpes Ketitang memperkuat wajah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang melindungi dan membina generasi muda.
Baca Juga:IPB Cirebon dan Upaya Perluas Jejaring Global, Bangun Kolaborasi Bersama Perguruan Tinggi ASEANKedisiplinan Jadi Kunci Kelancaran Pemulangan Haji
Ia menilai gerakan tersebut semakin relevan di tengah munculnya sejumlah kasus yang melibatkan oknum dan berdampak pada citra pesantren di mata masyarakat. “Kita sedang menghadapi cobaan karena ada oknum yang justru mengingkari nilai-nilai agama dan melakukan tindakan di luar nalar. Hal itu merusak marwah pesantren,” ujar Yenny Wahid menghadiri Haul KH Salwa Yasin, KH Asror Hasan, dan KM Adnan Amin serta Haflah Imtihan ke-47 Pondok Pesantren Ketitang, Japurabakti, Astanajapura, Sabtu malam (20/6/2026).
Yenny menegaskan, perilaku menyimpang yang dilakukan segelintir oknum tidak dapat digeneralisasi sebagai wajah pendidikan pesantren. Sebab, tidak ada ajaran di lingkungan pesantren yang membenarkan tindakan yang bertentangan dengan nilai agama maupun kemanusiaan. “Tidak ada santri yang diajari seperti itu,” tegasnya.
Ia mengakui berbagai pemberitaan negatif kerap memunculkan kekhawatiran di tengah masyarakat untuk menyekolahkan anak ke pesantren. Namun, persepsi tersebut tidak menggambarkan kondisi mayoritas pesantren yang selama ini menjadi tempat pembentukan karakter, akhlak, dan ilmu keagamaan.
Karena itu, Yenny mengajak seluruh elemen pesantren untuk bersama-sama menjaga kepercayaan publik dengan menunjukkan bahwa pesantren tetap menjadi ruang pendidikan yang aman dan menebarkan nilai-nilai kebaikan. “Orang menjadi takut menitipkan anak ke pesantren, padahal itu ulah oknum. Kita yang harus memperbaiki citra pesantren,” katanya.
Ia menambahkan bahwa ada pihak yang menyalahgunakan simbol keagamaan untuk melakukan tindakan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam. Menurutnya, hal tersebut perlu diluruskan agar tidak merusak kepercayaan publik terhadap lembaga pesantren.
