Tekanan pertandingan semakin terasa ketika waktu memasuki 30 detik terakhir. Wasit akan memberikan hitungan mundur hingga pertandingan berakhir. Situasi ini memaksa player meningkatkan intensitas serangan karena jika kedua layangan masih bertahan sampai batas waktu, pertandingan tetap harus menghasilkan pemenang melalui ketentuan dan perolehan poin yang berlaku.
Tidak hanya mengejar gengsi, panitia juga menyiapkan hadiah bagi para pemenang. Untuk masing-masing kategori, juara pertama mendapatkan uang pembinaan Rp2 juta, sertifikat dan medali. Juara kedua memperoleh Rp1 juta, sedangkan juara ketiga Rp700 ribu. Sementara posisi harapan 1, 2 dan 3 masing-masing mendapatkan uang pembinaan Rp100 ribu, sertifikat dan medali. Panitia juga menyediakan doorprize bagi peserta yang beruntung.
Yang menarik, Anoe Aink Cup I mempertemukan pelayang dari lintas generasi. Salah satu peserta termuda adalah Zaki, yang baru berusia 8 tahun. Meski masih sangat muda, Zaki sudah memiliki pengalaman mengikuti lomba layangan, termasuk di kelas Sukhoi, dan beberapa kali berhasil meraih juara. Di sisi lain, terdapat Abah Samsul, peserta berusia lebih dari 60 tahun yang ikut meramaikan kompetisi.
Baca Juga:Rumah Warga di Tenjolayar Cigasong Terbakar Diduga dari Korsleting ListrikDriver Ojol Bantu Ungkap Kasus Pembunuhan, Kapolres Majalengka Beri Penghargaan
“Harapan kami, kegiatan pertama Tim Anoe Aink ini berjalan lancar dan sukses. Kami juga ingin semakin mempererat persaudaraan sekaligus mengasah teknik dan skill para player. Kami sering mengikuti lomba di luar kota dan bertemu tim-tim lain. Sekarang kami mencoba menggelar event sendiri di Ancaran,” ujar Dadit.
Ketua Pelangi Kabupaten Kuningan, Denny Rianto, S.Pi., M.Si., menilai perkembangan olahraga layang-layang di Kuningan cukup dinamis. Pelangi atau Perkumpulan Pelayang Indonesia menjadi wadah bagi para pecinta, pehobi dan atlet layang-layang di Indonesia di bawah naungan KORMI. Di Kuningan, organisasi tersebut menaungi sekitar 40 klub atau tim yang tersebar di berbagai wilayah.
“Alhamdulillah antusias para pelayang Kuningan sangat tinggi. Dalam Anoe Aink Cup I ini ada dua kategori, SEOT dan Sukhoi, dengan masing-masing 96 slot. Pesertanya berasal dari berbagai kecamatan dan desa, dengan puluhan tim ikut berpartisipasi,” kata Denny.
Menurut Denny, kompetisi layangan di Kuningan tidak mengenal musim. Meski layang-layang identik dengan musim kemarau, para pelayang tetap menjalankan aktivitasnya sepanjang tahun dengan menyesuaikan kondisi cuaca. Sejumlah tim juga rutin mengikuti turnamen di luar daerah, sehingga persaingan sekaligus menjadi ruang untuk mengasah kemampuan dan menemukan player potensial.
