RADARCIREBON.ID – Langit Desa Ancaran, Kecamatan Kuningan, Kabupaten Kuningan, berubah menjadi arena pertarungan para pelayang pada 29–30 Agustus 2026. Puluhan tim berkumpul dalam Lomba Layangan Anoe Aink Cup I, sebuah kompetisi olahraga rekreasi dibawah Naungan Pelangi Kuningan dan KORMI, menguji kemampuan peserta menerbangkan, mengendalikan, sekaligus memutus layangan lawan dalam waktu yang sangat terbatas.
Di balik layangan yang menari di udara, terdapat teknik dan konsentrasi tinggi. Seorang player dituntut mampu membaca arah angin, menjaga kestabilan layangan, mengatur tarikan dan kendur kenur, melakukan manuver untuk mencari posisi serang, sekaligus mengantisipasi gerakan lawan. Kecepatan mengambil keputusan menjadi penting karena pertandingan bukan hanya soal siapa yang mampu menerbangkan layangan paling tinggi, melainkan siapa yang paling cepat membuat lawannya kehilangan kendali.
Pada Anoe Aink Cup I, panitia membuka dua kategori pertandingan, yakni SEOT dan Sukhoi. Masing-masing kategori menyediakan 96 slot peserta dengan sistem pertandingan gugur. Peserta yang lolos dari setiap bagan kemudian bertemu untuk memperebutkan posisi terbaik berdasarkan perolehan poin. Satu pertandingan berlangsung selama 4 menit dan sejak awal laga kedua player dituntut aktif melakukan adu layangan.
Baca Juga:Rumah Warga di Tenjolayar Cigasong Terbakar Diduga dari Korsleting ListrikDriver Ojol Bantu Ungkap Kasus Pembunuhan, Kapolres Majalengka Beri Penghargaan
Ketua Tim Anoe Aink sekaligus Ketua Panitia Anoe Aink Cup I, H. Dadit Wahyudin, menjelaskan setiap slot pertandingan diisi maksimal satu player dengan biaya registrasi pertandingan yang terjangkau yaitu Rp50.000. tiap peserta. Menurutnya, sistem pertandingan dirancang agar kemampuan teknis dan keberanian player benar-benar teruji.
“Pertandingan menggunakan sistem gugur. Setiap laga berlangsung 4 menit dan harus ada yang kalah. Kalau layangannya putus, dinyatakan kalah. Kalau nyungsep atau mencium tanah, juga kalah. Layangan sobek atau kenur tersangkut di pohon selama 10 detik, itu juga dinyatakan kalah,” kata Dadit.
Dalam istilah para pelayang, kondisi layangan putus menjadi salah satu penentu paling jelas dalam adu layangan. Namun, player juga harus berhati-hati ketika layangan kehilangan kendali hingga nyungsep, mengalami kerusakan atau sobek, maupun ketika kenur tersangkut. Karena waktu pertandingan terbatas, kemampuan mengatur posisi layangan, membaca celah serangan, dan melakukan manuver secara presisi menjadi faktor penting untuk meraih kemenangan.
