Bagi Edi, salah seorang warga, perubahan kondisi jembatan di wilayahnya memberikan rasa aman baru bagi masyarakat.
“Alhamdulillah sekarang sudah bagus dan bisa dilewati dengan lebih nyaman. Dulu kondisinya sudah mengkhawatirkan, jadi kami harus hati-hati kalau lewat,” kata Edi.
Dua pembangunan jembatan di Majalengka tersebut memperlihatkan persoalan yang sama dari sisi berbeda: akses menjadi kebutuhan dasar yang langsung bersentuhan dengan kehidupan masyarakat.
Baca Juga:Polsek Kandanghaur Pastikan Penyaluran BSCP Berlangsung TertibLapas Kelas IIB Indramayu Gelar Razia Gabungan , Temukan Barang Mengganggu
Di Putridalem, warga menunggu jembatan baru agar tidak lagi bergantung pada getek dan jembatan bambu serta terbebani biaya penyeberangan. Sementara di Dawuan, warga akhirnya kembali memperoleh akses yang lebih aman setelah jembatan lama berada dalam kondisi tidak layak.
Di tengah keterbatasan anggaran, pemerintah daerah dan TNI menempuh jalur kolaborasi untuk menjawab kebutuhan tersebut.
Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya panjang jembatan atau besarnya anggaran yang digunakan. Yang lebih penting adalah sejauh mana infrastruktur tersebut mampu mengubah kehidupan masyarakat: memangkas jarak, menghemat waktu, membuka akses, dan menghadirkan rasa aman bagi warga yang selama ini menunggu. (bae)
