Desa Gunungmanik Jadi Laboratorium Hidup UMC, Mahasiswa Belajar Langsung dari Masyarakat

Dosen UMC Johan MT bersama Kuwu Desa Gunungmanik, Jauhari Harianto.
Dosen UMC Johan MT bersama Kuwu Desa Gunungmanik, Jauhari Harianto.
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC) kembali menghadirkan terobosan inovatif dalam dunia pendidikan tinggi melalui konsep Living Laboratory Learning (3L). Kali ini, Desa Gunungmanik Kecamatan Ciniru Kabupaten Kuningan menjelma menjadi ruang belajar alternatif yang menempatkan masyarakat sebagai bagian integral dari proses pembelajaran mahasiswa. Konsep ini bukan sekadar kuliah di dalam kelas, melainkan laboratorium hidup yang bernapas bersama warga desa.

Melalui program 3L, mahasiswa diajak menyelami realitas desa secara langsung. Mereka tidak hanya duduk mendengarkan teori di bangku kuliah, tetapi juga mengeksplorasi potensi lokal, memahami dinamika sosial-ekonomi warga, hingga menghadapi tantangan nyata yang muncul di lapangan.

Desa pun berubah fungsi dari sekadar lokasi pengabdian menjadi pusat pembelajaran yang kaya makna. Pendekatan ini sejalan dengan karakteristik Desa Gunungmanik yang merupakan desa agraris dengan 248 petani dari total 1.155 jiwa penduduk, menjadikannya laboratorium sosial-ekonomi yang autentik bagi mahasiswa.

Baca Juga:Jembatan di Bojong  Cideres Resmi Digunakan, Masyarakat Bisa Pangkas JarakPolsek Kandanghaur Pastikan Penyaluran BSCP Berlangsung Tertib

Kepala Divisi Pengabdian Masyarakat UMC, Johan MT, menjelaskan bahwa 3L merupakan gagasan strategis untuk membangun laboratorium berbasis desa. Saat ini, program tersebut telah menjangkau wilayah 3 Cirebon, termasuk Kabupaten Majalengka. “3L adalah program yang digagas Pak Rektor untuk menjawab kebutuhan zaman. Universitas harus memiliki laboratorium berbasis desa. Desa adalah tulang punggung kemajuan Indonesia,” ujar Johan.

Ia menambahkan, konsep living laboratory menempatkan lingkungan masyarakat sebagai ruang belajar yang autentik, di mana mahasiswa tidak hanya menjalankan program, tetapi juga dilatih untuk berkomunikasi, berkolaborasi, merancang solusi, dan menyusun langkah nyata dalam menghadapi persoalan masyarakat.

Desa Gunungmanik sendiri bukanlah nama baru bagi UMC. Desa yang terletak di Kecamatan Ciniru ini telah menjadi desa binaan UMC selama enam tahun terakhir. Berbagai prestasi telah diraih dari hasil kolaborasi tersebut, termasuk pengembangan Kampung Keluarga Berkualitas (Kampung KB) yang diresmikan langsung oleh Bupati Kuningan.

Kuwu Desa Gunungmanik, Jauhari Harianto, menyambut baik program 3L yang diinisiasi UMC. Menurutnya, keberadaan mahasiswa di desanya telah membawa perubahan positif, terutama dalam pengembangan potensi lokal dan pemberdayaan ekonomi warga.

Dengan pendapatan asli desa yang kini mencapai Rp60 juta per tahun dari hasil BUMDes dan unit usaha lainnya, Gunungmanik membuktikan bahwa desa pelosok pun mampu mandiri dan sejahtera.

0 Komentar