RADARCIREBON.ID – Kasus dugaan keracunan yang dialami sejumlah siswa penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Ciwaru, Kuningan, memunculkan evaluasi terhadap kesiapan fasilitas kesehatan daerah. Salah satu perhatian utama Pemda Kuningan adalah keterbatasan laboratorium yang membuat pemeriksaan sampel harus dilakukan di luar daerah.
Ketua Satgas MBG Kuningan, U Kusmana MSi, mengatakan sampel terkait kasus tersebut hingga kini masih diperiksa di laboratorium rujukan di Bandung. Hasil pemeriksaan diperkirakan baru diketahui sekitar 14 hari.
“Tentu ini menjadi catatan bagi kami khususnya Dinas Kesehatan, untuk mengevaluasi ketersediaan sarana dan peralatan laboratorium di Kuningan. Bagaimana pemenuhan alat-alat yang saya kira sangat cukup penting ke depan, agar tidak lagi untuk pengecekan ke luar Kuningan,” katanya.
Baca Juga:Pajak Daerah Tembus 65 Persen, Bapenda Kuningan Kejar Rp77 MiliarOkupansi Hotel Menurun, PHRI Jawa Barat Dorong Konektivitas Paket Wisata Antardaerah
Ia menilai, keberadaan laboratorium dengan fasilitas pemeriksaan yang memadai penting untuk mempercepat penanganan berbagai persoalan kesehatan, termasuk ketika terjadi dugaan gangguan kesehatan dalam pelaksanaan program MBG.
Sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium, Badan Gizi Nasional (BGN) bersama Satgas MBG Kuningan telah mengambil langkah penghentian sementara atau suspensi terhadap satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berkaitan dengan kasus tersebut.
“Untuk sementara, baik BGN maupun Satgas Tim MBG Kuningan ini sudah mensuspend sementara sampai batas waktu yang ditentukan, nanti setelah hasil lab itu,” ujarnya.
Selain satu SPPG yang disuspensi, ia menyebut terdapat empat SPPG atau mitra yang mengajukan penghentian sementara operasional. Salah satu pertimbangannya berkaitan dengan persoalan operasional yang belum terbayarkan.
Meski kasus tersebut menjadi perhatian, pelaksanaan program MBG di Kuningan sejauh ini belum mendapat penolakan dari sekolah-sekolah. “Sampai saat ini terkait dengan program strategis nasional MBG, yang saya tahu sampai saat ini sekolah tidak ada yang menolak,” katanya.
Ia mengatakan, sekolah masih berharap program strategis nasional tersebut tetap berjalan dengan baik. Namun pelaksanaan di lapangan perlu terus dievaluasi, terutama menyangkut tata kelola serta kualitas dan keamanan menu yang diberikan kepada penerima manfaat.
Terkait biaya pemeriksaan dan penanganan siswa yang mengalami dugaan keracunan, pihaknya memastikan seluruh biaya telah ditanggung sehingga tidak dibebankan kepada para korban. (ags)
