Hasil Rapat, Ortu Siswa SDN Taman Kalijaga Permai Tolak MBG

Tolak MBG
RAPAT: Wali murid SDN Taman Kalijaga Permai, Kota Cirebon, menolak program MBG dalam rapat sekolah, Rabu (28/10/2026). Foto: Ade Gustiana/Radar Cirebon
0 Komentar

RADARCIREBON.ID- Anak-anak mulai pulih. Namun, ketakutan orang tua belum hilang. Mayoritas wali murid SDN Taman Kalijaga Permai, Kota Cirebon, menolak program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali disalurkan di sekolah mereka setelah dugaan keracunan yang membuat puluhan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan.

Penolakan itu mengemuka dalam rapat sekolah bersama wali murid, Rabu (28/10/2026). Orang tua meminta kejelasan penyebab kejadian, jaminan keamanan makanan, serta perhatian terhadap keluarga yang kehilangan penghasilan saat mendampingi anak menjalani perawatan.

Hadi Diana, wali murid kelas III, menjadi salah satu orang tua yang memilih menolak MBG. Anaknya ikut terdampak dan harus dirawat selama empat hari tiga malam di RS Siloam Putera Bahagia. “Kalau saya pribadi sih menolak. Cuma secara pribadi, kan, pikiran saya menolak itu bakal ada pergantian ataupun ada alternatif lain. Ternyata di saat menolak, ya selesai menolak, tidak ada solusi,” ujar Hadi seusai rapat dengan pihak sekolah, Rabu (28/10/2026).

Baca Juga:Kemenhaj Siapkan Aturan Disiplin Petugas HajiHarga Pangan di Pasar Jagasatru di Tengah Musim Kemarau Berkepanjangan Relatif Stabil

Saat kejadian beberapa hari lalu, Hadi mengaku menerima kabar kondisi anaknya memburuk saat dirinya masih bekerja. Sekitar pukul 12.30 WIB, ia mendapat telepon bahwa tubuh anaknya mulai panas. Setelah dibawa pulang, anak muntah-muntah.

Pengalaman itu membuatnya khawatir kejadian serupa terulang jika program dilanjutkan tanpa kejelasan penyebab dan jaminan keamanan. Menurut Hadi, pengawasan makanan harus benar-benar dijalankan sesuai standar operasional prosedur (SOP). Pemeriksaan tidak cukup hanya mengandalkan pencicipan oleh guru sebelum makanan dibagikan kepada siswa.

Ia juga menyoroti dampak ekonomi yang dialami orang tua. Sebagian wali murid harus meninggalkan pekerjaan atau menghentikan aktivitas berdagang untuk menjaga anak yang sakit. Bagi keluarga yang mengandalkan penghasilan harian, kondisi itu berarti kehilangan pendapatan. Hadi berharap persoalan keluarga terdampak turut mendapat perhatian, bukan hanya penyelidikan penyebab dugaan keracunan.

Kekhawatiran serupa disampaikan Mega Susilowati, wali murid kelas IV. Anaknya mengalami diare dan sempat dirawat satu malam di RS Ciremai. Meski kini kembali beraktivitas, anaknya masih menunjukkan trauma.

Mega mengatakan, anaknya takut melihat telur bulat dari luar, sementara telur puyuh menjadi salah satu bahan yang mendapat perhatian dalam penelusuran kasus tersebut. “Trauma kalau lihat telur bulat dari luar. Kalau masakan mamanya sih tidak,” ucap Mega Susilowati.

0 Komentar