PCNU Kuningan Tutup HSN Gus Muwafiq Serukan Persatuan

Ist 
PENUTUPAN HSN: Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar bersama ulama nasional KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq menghadiri Tabligh Akbar penutupan rangkaian Hari Santri Nasional 2026 yang digelar PCNU Kabupaten Kuningan di Masjid Agung Syi\'arul Islam, Rabu (28/10).
0 Komentar

RADARCIREBON.ID– Peran santri dan pesantren dalam menjaga persatuan bangsa serta membangun generasi berkarakter menjadi sorotan dalam penutupan rangkaian Hari Santri Nasional (HSN) 2026 di Kabupaten Kuningan. Melalui Tabligh Akbar di Masjid Agung Syi’arul Islam, Rabu (28/10), Pimpinan Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Kuningan menghadirkan ulama nasional KH Ahmad Muwafiq atau Gus Muwafiq untuk menyampaikan tausiah bertema Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas.

Kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperkuat nilai toleransi, persaudaraan, dan kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat. Acara ini turut dihadiri Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar bersama unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda).

Dalam tausiahnya, Gus Muwafiq mengajak masyarakat, khususnya kalangan santri, untuk menyikapi perbedaan agama, keyakinan, serta latar belakang sosial dan budaya secara bijaksana. Menurutnya, keberagaman seharusnya menjadi ruang untuk saling memahami dan menghormati, bukan alasan untuk membangun prasangka, memberikan stigma negatif, ataupun memperlebar perpecahan.

Baca Juga:Seminar Nasional Pendidikan di Kuningan Bahas Rendahnya Rata-rata Lama SekolahRumah Sutinah Nyaris Ambruk, Wabup Kuningan Bantu Rp15 Juta

Ia mengingatkan bahwa kemajuan peradaban manusia lahir dari kontribusi berbagai bangsa dan kebudayaan yang saling terhubung. Perkembangan transportasi, teknologi, hingga ilmu pengetahuan menjadi bukti bahwa kehidupan manusia tidak dapat dilepaskan dari kerja sama dan ketergantungan satu sama lain.

Karena itu, Gus Muwafiq menekankan bahwa keteguhan dalam beragama seharusnya tercermin melalui kebijaksanaan, akhlak mulia, dan penghormatan terhadap sesama. Pemahaman agama yang kuat, menurutnya, tidak semestinya membuat seseorang merasa lebih tinggi atau merendahkan kelompok lain.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi kalangan santri agar tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga memperluas wawasan, membangun kejernihan berpikir, dan meningkatkan kepedulian sosial. Dengan bekal tersebut, santri diharapkan mampu menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan pijakan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Sementara Bupati Dr H Dian Rachmat Yanuar menegaskan, bahwa santri dan pesantren memiliki posisi strategis dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa menuju Indonesia Emas. Pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, melainkan juga ruang pembentukan karakter, penguatan persatuan, serta penanaman kepedulian terhadap persoalan masyarakat.

“Peringatan Hari Santri Nasional yang berdekatan dengan Hari Sumpah Pemuda ke-98, menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat kebersamaan. Sekaligus merefleksikan perjuangan generasi terdahulu dalam menyatukan bangsa di tengah keberagaman,” ungkapnya.

0 Komentar