Sebelum mendapat perawatan intensif di RSPI Sulianti Saroso, kedua pasien sempat dirawat dan dilakukan pemeriksaan di RS Mitra Keluarga Depok. Ia memastikan bahwa dinas kesehatan dan Kemenkes melakukan upaya sesuai Standar Operational Prosedur (SOP) yang telah disepakati bersama organisasi kesehatan dunia atau World Health Organization (WHO).
“Yang tidak bisa itu kita cegah, memang kalau mau sakit ya sakit. Itu yang kita tidak tahu. Tapi, pencegahan sudah kita lakukan. Jadi sudah jelas, bahwa apa yang dilakukan oleh Balitbangkes sudah nyata. Kalau positif ya positif. Kalau negatif ya negatif,” jelasnya.
Lebih lanjut menkes menjelaskan mekanisme selanjutnya yang disebut surveillance tracking. Mekanismenya, mulai dari dengan siapa pasien melakukan kontak, tempat tinggal di mana, rumah sakit yang mana.
Baca Juga:Pihak PG Sindanglaut Tolak Tuntutan PetaniSiaga 1 Virus Corona, Kuningan Langsung Bergerak
“Semuanya kita tracking. Kita cek waspadai. Bukan berarti semua harus di-swap. Harus inget ya, tidak semua orang kontak itu menjadi sakit atau positif corona. Itu yang harus disadari,” terangnya.
“Itu terbukti dari pasien World Dream. Bukan yang Diamond Princess ya, dia diturunkan di Hongkong. Tapi apa kenyataannya, 188 orang itu negatif semua. Padahal ada kontak di situ,” tambahnya.
Artinya, kata ia, tidak semua kontak akan jadi positif Covid-19, tergantung kondisi tubuh seseorang. Kalau imunitas orang baik, maka kecil kemungkinan akan tertular virus corona.
“Ini data ya, 188 orang enggak main-main, negatif semua. Padahal close kontak dengan orang yang dia layani di kapal itu,” katanya.
Terkait awal mula dua WNI tertularnya virus corona di salah satu klub di kawasan Kemang, menkes memastikan bahwa akan melakukan pendataan terhadap orang yang berada di klub tersebut di mana WN Jepang menularkan Covid-19.
“Langkahnya ya didata. Yang waktu itu siapa ke mana, diumumkan juga siapa yang merasa pada waktu itu di klub itu kemudian ada keluhan apa. Kalau enggak ada keluhan, ya gak masalah. Tidak semua yang kontak akan menjadi sakit. Itu prinsip,” tutur Terawan.
Namun, menkes mengatakan, tidak melakukan pengecekan langsung di klub tersebut dengan alasan tidak ingin menimbulkan paranoid. “Enggak begitu, kita enggak memunculkan paranoid. Semua kita harus rasionalitas. Kita akan cek survillance track ini ntuk memantau,” cetusnya.
