Ancaman Eceng Gondok di Waduk Darma Dorong KTH Paguyuban Silihwangi Turun Tangan

Agus panther/radar kuningan 
GOTONG ROYONG: Puluhan anggota KTH Paguyuban Silihwangi Majakuning bergotong royong membersihkan eceng gondok di Waduk Darma, Minggu (14/6). 
0 Komentar

RADARCIREBON.ID – Meningkatnya sebaran eceng gondok di perairan Waduk Darma mulai menjadi ancaman serius bagi lingkungan dan sektor pariwisata Kabupaten Kuningan.

Jika tidak segera ditangani, pertumbuhan gulma air tersebut dikhawatirkan mengganggu fungsi waduk sekaligus menurunkan daya tarik destinasi wisata unggulan yang selama ini menjadi kebanggaan daerah.

Kondisi tersebut mendorong Kelompok Tani Hutan (KTH) Paguyuban Silihwangi Majakuning untuk terlibat langsung dalam upaya penanganan eceng gondok yang dilakukan Pemerintah Kabupaten Kuningan.

Baca Juga:Kejaksaan Pelototi Penerima MBG di Kuningan, 390 Ribu Penerima Manfaat Jadi PrioritasKunci Bersama Dorong Percepatan Infrastruktur untuk Tingkatkan Ekonomi Kawasan

Sebanyak 50 anggota KTH dari desa-desa penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai diterjunkan dalam aksi gotong royong masal membersihkan perairan Waduk Darma bersama Bupati Kuningan.

Keterlibatan Paguyuban Silihwangi Majakuning menjadi bentuk kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan sekaligus keberlangsungan sektor pariwisata yang menjadi sumber penghidupan bagi banyak warga. Organisasi yang menaungi kelompok tani hutan di kawasan penyangga Gunung Ciremai itu menilai persoalan eceng gondok sudah memerlukan penanganan serius dan berkelanjutan.

Ketua Paguyuban Silihwangi Majakuning H Nandar Junar Arif, mengatakan Waduk Darma merupakan bagian dari ekosistem yang harus dijaga bersama oleh seluruh elemen masyarakat. Karena itu, pihaknya merasa memiliki tanggung jawab untuk ikut terlibat dalam upaya penyelamatan lingkungan tersebut.

“Ini merupakan ekosistem kita juga, lingkungan kita juga. Kami merasa terpanggil dan berkewajiban untuk menjaga lingkungan ini,” ujarnya.

Menurut Nandar, pertumbuhan eceng gondok yang tidak terkendali dapat menimbulkan berbagai dampak negatif. Selain mempercepat proses sedimentasi waduk, keberadaan gulma air tersebut juga berpotensi mengganggu keseimbangan ekologi perairan karena menyerap oksigen dalam jumlah besar yang dibutuhkan ikan dan biota lainnya.

“Dampaknya cukup besar. Selain mempercepat sedimentasi waduk, secara ekologis eceng gondok juga memengaruhi kadar oksigen di dalam air. Itu yang menjadi perhatian kami,” katanya.

Dalam kegiatan tersebut, Paguyuban Silihwangi Majakuning mengerahkan sekitar 50 anggota yang berasal dari lima KTH perwakilan dari total 28 KTH yang tergabung dalam paguyuban. Mereka berasal dari Desa Cisantana, Puncak, Sagarahiang, Karangsari, dan Gunungsirah.

Baca Juga:Resmi Dikukuhkan, DPK Aspanji Cirebon Dorong Pengadaan Barjas Lebih ProfesionalJalan Kertawana-Cihirup Kembali Mulus, Proyek DAK Rp5,04 Miliar Hampir Rampung

Tak hanya menyumbangkan tenaga, paguyuban juga memperkuat operasi pembersihan dengan menyediakan dua unit dump truck, satu unit kendaraan pikap, 300 karung, serta 10 garpu pengangkut untuk memudahkan proses evakuasi eceng gondok dari perairan waduk.

0 Komentar