Ia mengaku sempat mendengar kabar soal kasus korupsi di internal bank beberapa waktu lalu. Bahkan tahu ada pihak yang ditangkap. Namun ia tak pernah menyangka dampaknya sejauh ini. “Saya pikir ya sudah, yang korupsi sudah ditangkap. Uang saya aman. Apalagi katanya dijamin LPS,” katanya.
Kabar penutupan bank membuatnya terkejut. Hari itu ia datang hanya untuk mencari kepastian. “Saya ingin tahu alurnya bagaimana. Tadi petugas bilang harus registrasi dulu di website LPS. Saya yakin uang saya pasti bisa kembali. Kalau tidak, kepercayaan masyarakat ke bank bisa hilang. Bank mana pun,” ucapnya. Harapannya sederhana: proses cepat, tidak dipersulit.
Tak jauh dari Eka, Evi Avianti tampak lebih gelisah. Perempuan yang mengaku sudah 35 tahun menjadi nasabah Bank Cirebon itu menyimpan tabungan bukan hanya atas namanya sendiri. “Ini tabungan untuk cucu saya. Anak saya di Bandung nabung lewat saya,” tuturnya.
Baca Juga:Bank Cirebon Tamat! Kepala OJK: Tak Bisa DiselamatkanKredit 400 ASN di Bank Cirebon Tidak Lancar, Tetap Harus Bayar
Jumlahnya tidak kecil. Simpanan jangka pendek dan jangka panjang, pernah mencapai Rp35 juta hingga Rp40 juta. Dua bulan lagi, rencananya ia akan mencairkan Rp10 juta. “Biasanya saya cairin tiap bulan. Untuk keperluan anak-anak kuliah. Sekarang semua sudah lulus,” katanya.
Selain itu, ada pula simpanan pokok sekitar Rp16 juta. Evi mengaku selama ini merasa aman menyimpan uang di Bank Cirebon. “Yang tidak aman itu manusianya, oknumnya,” ucapnya lirih.
Ia datang ke kantor bank karena ingin tahu syarat pencairan dan prosedurnya. Namun kepanikan membuatnya belum sepenuhnya paham. “Saya nanti mau ajak anak saya ke sini. Sekarang masih bingung,” katanya.
Meski kecewa, ia masih menyimpan harapan. “Kalau ada bank seperti ini lagi, resmi dan dijamin LPS, saya mau nabung lagi. Yang penting jelas,” tukasnya.
Cerita serupa datang dari Evi Sulastri, warga Gerbang Permai Pamengkang (GPP) Cirebon. Wajahnya terlihat lelah. Ia mengaku semalaman tak bisa tidur setelah mendengar kabar penutupan bank dari temannya. “Uang saya Rp35 juta. Lemas banget pertama dengarnya,” katanya.
