Disebutkannya, banyak kondisi eksisting tambak “mati”, tidak produktif, budidaya masih dilakukan secara tradisional, dan tidak ada tandon dan IPAL. Karenanya masih rentan terhadap serangan penyakit. Akibatnya produktivitas per tahunnya pun rendah yakni hanya 0,6 ton per hektar.
Diuraikannya, program revitalisasi tambak Pantura Jawa dimulai sejak tahun 2025. Targetnya sekitar 20 ribu hektare. Dimulai dari Pantura Bekasi, Karawang, Subang dan Indramayu.
Dia kembali mengungkapkan jika program itu tujuannya untuk meningkatkan produktivitas tambak yang kurang optimal. Selain mendukung ketahanan pangan nasional berbasis ekonomi biru secara berkelanjutan. “Kami proyeksikan target produksi ikan nila salin dari 20 ribu hektare dengan program revitalisasi di empat lokasi kabupaten tersebut akan menghasilkan sekitar 1,56 juta ton ikan nila salin,” ungkapnya.
Baca Juga:WFH No, Naik Sepeda OkeArus Balik Lebaran 2026 Hari Ini, Tol Cipali Masih One Way
Dia mengasumsikan harga jual nila salin Rp 25 ribu per kg. “Maka akan terjadi perputaran uang hingga mencapai triliunan rupiah per tahun,” jelasnya lagi.
