Setelah pensiun di usia 58 tahun, pintu itu terbuka lewat ajakan sejawatnya, dr Susi. Awalnya hanya jalan pagi di lereng Ciremai bersama komunitas Ciremai Hash House Harriers. Pesertanya beragam, ada yang sudah berusia 80 tahun atau memakai ring jantung. Hal ini membakar semangatnya.
Namun, ada dilema. “Sebagai seorang istri dan ibu, saya berpikir, kalau saya berangkat, bagaimana dengan suami?” ucapnya. Sang suami adalah dosen di UGJ Cirebon. Usia mereka selisih delapan tahun. Mengajak pria yang sudah mapan dengan rutinitasnya untuk masuk ke hutan bukan perkara mudah.
Dokter Lucya menjalankan strategi pelan-pelan. Ia tunjukkan foto-foto keindahan puncak. Ia belikan perlengkapan sedikit demi sedikit: sepatu trekking, trekking pole, hingga jersey dry-fit. Strategi itu berhasil. Suaminya kini menjadi partner tetap di jalur pendakian.
Baca Juga:Terapi Tradisional Tiongkok di Vihara Dharma Sukha Diminati, Kombinasi Totok Saraf dan EnergiGuru Honorer Diurus Setengah Hati, Sekjen PB PGRI: Tak Ada Istilah PPPK Paruh Waktu
Daftar pendakiannya adalah bukti konsistensi. Ia memulai dengan Gunung Kerenceng pada 15 Desember 2022. Medan yang curam dan kabut tebal di ketinggian 1.000-an mdpl hampir meruntuhkan mentalnya. Namun, ia bertahan.
Tahun 2023 menjadi tahun pembuktian. Ia menaklukkan Puntang (Mei), Papandayan (Juni), Tangkuban Parahu dan Kawah Upas (Agustus), hingga Gunung Bendera (Oktober). Setiap pendakian memberikan pelajaran baru tentang batas kemampuan fisik.
Tahun 2024, intensitasnya menggila. Beruntun ia mendaki Pangradinan, Singa, Burangrang, Manglayang, hingga Prau di Dieng pada Juli. Puncaknya terjadi pada Agustus 2024. Ia mendaki Gunung Patuha, lalu disusul pendakian paling emosional: Gunung Ciremai pada 17 Agustus 2024.
Ciremai adalah pemandangan sehari-harinya. Gunung itu sering terlihat jernih tanpa cacat dari rumahnya. Namun, mendakinya adalah urusan lain. Malam sebelum summit attack, ia gelisah.
Sebagai dokter, ia paham risiko hipoteremia atau henti jantung. Apalagi, ada rekan komunitasnya yang baru saja meninggal di jalur pendakian. “Heart rate saya waktu tidur bahkan sampai 70. Saya benar-benar tegang,” ungkapnya.
Ketegangan itu sirna saat ia mencapai puncak tertinggi Jawa Barat tepat di hari kemerdekaan. Baginya, gunung adalah serpihan surga yang Allah titipkan di bumi. Tak berhenti di sana, ia lanjut ke Bismo, Merbabu, Malabar, Sangar, Sumbing, hingga Guntur.
