RADARCIREBON.ID – Banyak orang menganggap pensiun adalah garis finish. Bagi dr Lucya Agung Susilawati MARS, pensiun justru menjadi peluit start untuk mengejar ketertinggalan pada alam.
Saat usianya tepat menyentuh 62 tahun hari ini, 14 April 2026, ia tidak sedang duduk di kursi goyang. Ia mungkin sedang merencanakan tanjakan berikutnya.
Dokter Lucya adalah anomali. Di usia yang bagi sebagian orang adalah masa rawan sendi, ia justru baru saja menuntaskan 28 pendakian sejak purnatugas pada Mei 2022. Dari Ijen yang berbau belerang hingga Ciremai yang berbalut mitos, semua diladeni. Tanpa kompromi.
Baca Juga:Terapi Tradisional Tiongkok di Vihara Dharma Sukha Diminati, Kombinasi Totok Saraf dan EnergiGuru Honorer Diurus Setengah Hati, Sekjen PB PGRI: Tak Ada Istilah PPPK Paruh Waktu
“Saya merasa seperti diberi kesempatan oleh Allah untuk melakukannya sekarang, sebelum saya meninggal,” ujarnya kepada Radar Cirebon.
Kalimat itu bukan nada kepasrahan, melainkan deklarasi semangat yang baru mekar di usia senja.
Jejak karir dr Lucya adalah deretan angka panjang di dunia birokrasi kesehatan. Ia menghabiskan 33 tahun sebagai PNS. Sebanyak 23 tahun ia dedikasikan di RSUD Gunung Jati Cirebon, merangkak dari dokter umum, dokter IGD, hingga menduduki kursi wakil direktur.
Ia melewati banyak rezim direktur, saksi hidup transformasi rumah sakit terbesar di Kota Udang tersebut.
Tahun 2013, ia ditarik menjadi Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Cirebon. Lima tahun di sana, tantangan lebih besar datang: memimpin RS Paru Sidawangi milik Pemprov Jabar. Ia sempat menolak tiga kali tawaran Gubernur saat itu, Ahmad Heryawan.
Namun, panggilan tugas mengalahkannya. Ia akhirnya bersedia menjadi ASN Provinsi demi membenahi Sidawangi selama tiga tahun.
Jabatan terakhirnya adalah Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat. Sebuah posisi krusial yang menguras energi, terutama saat pandemi Covid-19 menghantam.
Baca Juga:Keluarga Jemput Jenazah Egi di Bali, Peristiwa Tragis ABK Warga Cirebon, 5 Pelaku Telah DiamankanGuru Honorer di Kabupaten Cirebon Digaji Rp300 Ribu Per Bulan, Ronianto: Sedang Kami Perjuangkan
Namun, tepat 1 Mei 2022, ia menanggalkan seragam cokelatnya. Tawaran dari RS besar seperti Santosa Bandung berdatangan, namun ia memilih pulang ke Cirebon untuk memimpin Cirebon Eye Center.
Hanya jeda dua minggu sejak pensiun, ia sudah kembali bekerja. Namun kali ini, ada yang berbeda. Ia memiliki “utang” pada masa mudanya: naik gunung.
Keinginan mendaki sebenarnya sudah ada sejak ia kuliah di Fakultas Kedokteran Unpad tahun 1982. Kala itu, ada unit Atlas Medical Pioneer (AMP). Namun, jiwa idealis mudanya lebih memilih pengabdian sosial di masjid, khitanan masal, dan pengobatan gratis. Hasrat naik gunung dipendam rapat-rapat demi misi kemanusiaan.
