Gunung Guntur di Garut ia sebut sebagai yang paling menguras tenaga karena jalur pasir yang membuat kaki melorot setiap kali melangkah. Terakhir, pada Oktober 2025, ia menutup musim sebelum hujan di Gunung Sagara.
Kekuatan fisik dr Lucya bukan sulap. Saat usia 50 tahun, ia mulai belajar berenang karena lututnya sering sakit saat berdiri dari posisi salat. Kini, seminggu tiga kali ia sanggup berenang sejauh 250 meter berkali-kali dalam satu sesi. Sakit lututnya hilang.
Ia juga rutin berlatih kettlebell. Alat beban seberat 6 kilogram itu menjadi makanannya untuk melatih kekuatan otot seluruh tubuh. Ia sadar, di usia 60-an, massa otot menurun drastis jika tidak dilatih. Olahraga kardio seperti lari 10K pun ia jabanin dengan target waktu 100 menit. Konsistensi adalah kunci.
Baca Juga:Terapi Tradisional Tiongkok di Vihara Dharma Sukha Diminati, Kombinasi Totok Saraf dan EnergiGuru Honorer Diurus Setengah Hati, Sekjen PB PGRI: Tak Ada Istilah PPPK Paruh Waktu
Namun, dr Lucya bukan sekadar “pemburu puncak”. Di sela napasnya yang memburu di tanjakan, ia membawa bekal spiritual. Sejak 2023, ia mulai menghafal Alquran dengan metode Qawwami. Kini ia sudah sampai di Juz 28. Baginya, memahami isi Alquran sama seperti memahami surat wasiat dari Nabi.
“Alquran memerintahkan manusia untuk berjalan di bumi dan melihat ciptaan-Nya. Mendaki gunung adalah bagian dari itu,” jelasnya. Ia juga aktif menulis puisi. Pengalaman badai di Merbabu dan dinginnya Sumbing ia tuangkan dalam buku antologi berjudul Langkah Menuju Puncak.
Meski bersemangat, dr Lucya tetaplah seorang dokter yang objektif. Ia tidak ambisius yang buta. Target berikutnya adalah Gunung Sindoro, namun ia tetap tahu batas. Ia belum berani ke Rinjani karena sadar akan risiko fisik yang bisa merepotkan orang lain.
“Kalau merasa tidak sanggup, saya tidak akan memaksakan diri,” katanya. Baginya, keselamatan adalah prioritas utama seorang pendaki, apalagi di usia senja.
Kini, di hari ulang tahunnya yang ke-62, dr Lucya Agung Susilawati memberikan pesan tanpa suara: bahwa penuaan tidak harus berarti penurunan. Bahwa gunung tidak akan lari, tapi kesempatan untuk melihat matahari terbit dari puncaknya adalah anugerah yang harus dijemput.
Ia akan terus mendaki selama raga masih diizinkan. Tidak ada target angka berapa gunung lagi yang harus didaki. Baginya, perjalanan adalah tujuan itu sendiri. Menikmati perubahan warna langit dari hitam, kuning, jingga, hingga biru adalah bayaran yang tak bisa dinilai dengan materi apa pun. Selamat ulang tahun, Dokter. Sampai jumpa di puncak berikutnya. (*)
