Ia menilai keberadaan KTH, sebagai warga yang tinggal berbatasan langsung dengan hutan Ciremai, memiliki posisi strategis sebagai garda terdepan penjaga kawasan hutan. Karena itu, solidaritas antar kelompok dinilai menjadi faktor penting dalam menghadapi potensi karhutla selama musim kemarau panjang.
“Kalau sewaktu-waktu terjadi kebakaran, seluruh KTH harus saling membantu dan bergerak cepat. Kekompakan di lapangan akan menentukan cepat atau lambatnya penanganan,” ujarnya.
Selain memperkuat kesiapan teknis, kegiatan tersebut juga menyoroti pentingnya evaluasi dari kasus-kasus kebakaran sebelumnya. Koordinator Lapangan Paguyuban Silihwangi Majakuning, Jumanta menerangkan, kawasan sekitar Cikaracak di wilayah Argapura termasuk area yang memiliki tingkat kerawanan cukup tinggi saat musim kemarau tiba.
Baca Juga:SDN Kebon Baru 4 Cirebon Tembus Top 10 SD Terbaik NasionalJelang Persib vs Arema, Marc Klok: Main di Kandang Wajib Menang
Kondisi vegetasi kering ditambah tiupan angin di kawasan lereng gunung berpotensi mempercepat penyebaran api apabila tidak dilakukan penanganan awal secara cepat.
“Pengawasan wilayah rawan harus diperketat. Penanganan awal tidak boleh terlambat karena api di kawasan hutan bisa cepat meluas,” katanya.
Di sisi lain, ancaman terhadap kawasan TNGC dinilai bukan hanya berasal dari karhutla. Paguyuban menyampaikan keprihatinan atas kemungkinan adanya aktivitas perburuan liar. Ia menilai edukasi kepada masyarakat di sekitar kawasan hutan harus terus diperkuat, agar ikut mencegah terjadinya kerusakan ekosistem akibat perburuan. Warga diharapkan segera melapor ke BTNGC jika menemukan aktivitas seperti ini.
Kegiatan di Majalengka dihadiri jajaran KTH Waluya Bagja, KTH Ciremai Indah, KTH Bukit Cikaracak, KTH Caladi Sakti, dan KTH Cangehgar. Seluruh anggota paguyuban sepakat memperkuat patroli kawasan serta turut serta mengedukasi masyarakat sekitar, agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Keberadaan Kelompok Tani Hutan di desa-desa penyangga Gunung Ciremai sangat strategis dalam menjaga kawasan hutan berbasis masyarakat. Mereka memiliki rasa tanggung jawab yang berbeda dari warga lain di luar kawasan, karena bagi mereka hutan Ciremai merupakan sumber kehidupan, sumber mata air yang dirasakan sepanjang tahun, bahkan di musim kemarau sekalipun. (Bud)
